Seorang dokter mengingatkan rekan-rekannya di kalangan tenaga kesehatan untuk tidak melampiaskan kelelahan kepada pasien. Dalam unggahan di media sosial, dr. Gia Pratama menegaskan bahwa jas putih dan seragam rumah sakit adalah 'pakaian penetral emosi' yang mengingatkan mereka untuk tetap profesional di tengah tekanan.
Menurut dr. Gia, meskipun lelah, beban yang dirasakan tenaga kesehatan tidak sebanding dengan apa yang dialami pasien. 'Sakit itu tidak enak. Badan terasa asing, pikiran penuh ketakutan, waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti,' tulisnya.
Ia mengakui bahwa tenaga kesehatan memahami keterbatasan fasilitas, rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS, serta padatnya IGD. Namun, pasien tidak selalu memahaminya. 'Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan, ingin mengetahui apa yang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada yang peduli,' ujarnya.
Dr. Gia menyarankan agar komunikasi dengan pasien dilakukan dengan empati. 'Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam lagi. Kami akan terus memberi kabar.' Menurutnya, bagi orang yang sedang takut, kejelasan adalah bentuk kasih sayang. 'Nada suara yang lembut adalah obat pertama,' tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hubungan dokter-pasien bukanlah hubungan atasan-bawahan, melainkan kemitraan. 'Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit. Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.'
Dr. Gia menyoroti fenomena tenaga kesehatan yang mudah tersulut saat pasien menyampaikan keluhan di media sosial. 'Lelah dapat dipahami, marah dapat terjadi, frustrasi adalah bagian dari hidup. Namun merendahkan pasien, mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun,' tegasnya.
Ia mengajak rekan sejawat untuk memandang pasien sebagai ladang rezeki. 'Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh, dan membutuhkan pertolongan. Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti, tangan kita dapat menolong, kesabaran kita dilatih, dan terbuka kesempatan untuk mendapatkan pahala.'
Pada akhir tulisannya, dr. Gia mengingatkan bahwa bagi tenaga kesehatan, seorang pasien mungkin hanyalah salah satu dari puluhan pasien yang ditangani hari itu. 'Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan,' pungkasnya.
Artikel Terkait
Nakes yang Bully Keluarga Pasien Meninggal Akhirnya Minta Maaf