Korban luka dalam ledakan di Odaisseh itu, menurut konfirmasi kantor PBB di Jakarta, adalah warga negara Indonesia. Reaksi pemerintah Indonesia pun datang dengan cepat dan keras. Mereka mengutuk insiden tersebut sebagai hal yang "tidak dapat diterima".
Lebih lanjut, Indonesia menegaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian. Situasi konflik yang kian berbahaya memang membutuhkan perhatian serius.
Kalau kita lihat ke belakang, angka korbannya cukup mencengangkan. Sejak dibentuk tahun 1978 untuk memantau penarikan pasukan Israel dari Lebanon, PBB mencatat 97 anggota pasukan penjaga perdamaiannya telah tewas dalam berbagai kekerasan.
"Ini merupakan minggu yang sulit bagi pasukan penjaga perdamaian yang bekerja di dekat bagian tengah wilayah operasi UNIFIL," ujar Ardiel.
Dia juga mengingatkan semua pihak yang bertikai. "(UNIFIL) mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian, termasuk dengan menghindari aktivitas pertempuran di dekatnya yang dapat membahayakan mereka."
Peringatan itu jelas, tapi di lapangan, tembakan dan ledakan masih terus bergema.
Artikel Terkait
Pemilik Hajatan di Purwakarta Tewas Dikeroyok Usai Dipalak
Honda Stylo 160 Perbarui Warna dan Tampilan, Tawarkan Varian Spesial Burgundy
Pilot AS Berhasil Diselamatkan Usai Jet Tempurnya Ditembak Jatuh Iran
Polisi Buru Pelaku Pengeroyokan Tewaskan Pemilik Hajatan di Purwakarta