Menurut Rudi, dengan pos-pos itu, bantuan bisa lebih cepat sampai. Masyarakat pun punya titik jelas untuk meminta pertolongan jika diperlukan.
Di sisi lain, Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, menekankan soal pendekatan. “Kami mengedepankan nilai kemanusiaan,” jelas Henry.
“Semana Santa di Larantuka ini tradisi bernilai tinggi, dikenal sampai mancanegara. Maka, pelayanan kami harus humanis dan penuh kasih. Biar masyarakat benar-benar merasakan kami sebagai pelindung, bukan sekedar pengawas.”
Semua personel, lanjutnya, diinstruksikan untuk bertugas profesional tapi juga membangun komunikasi yang hangat dengan warga. Tujuannya satu: menciptakan suasana harmonis sepanjang perayaan.
Perhatian ekstra memang diperlukan, terutama untuk prosesi laut yang punya risiko lebih tinggi. Pengaturan transportasi di bandara, pelabuhan, dan terminal dioptimalkan. Patroli bahari digelar, tim medis disiagakan di setiap pos. Semua langkah itu diambil agar arus peziarah lancar dan, yang terpenting, selamat sampai tujuan.
Pada akhirnya, di balik angka dan strategi, operasi besar ini punya napas yang sederhana: memungkinkan setiap orang merayakan imannya dengan damai. Itu intinya.
Artikel Terkait
Andre Rosiade Gelar Turnamen Padel Gratis untuk Dorong Olahraga Keluarga
Gubernur DKI Kunjungi Siswa Korban Keracunan Makanan di RSKD Duren Sawit
Gempa 5,8 SR Guncang Bitung, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
WHO Peringatkan Sistem Kesehatan Lima Negara Timur Tengah di Ambang Kolaps