BNPB Tinjau Kerusakan Gereja Pascagempa 7,6 M, Pastikan Penanganan Segera

- Jumat, 03 April 2026 | 19:45 WIB
BNPB Tinjau Kerusakan Gereja Pascagempa 7,6 M, Pastikan Penanganan Segera

Jumat sore itu, suasana di Gereja Paroki Bunda Hati Kudus, Rumengkor, terasa berbeda. Baru saja diguncang gempa dahsyat berkekuatan 7,6 magnitudo, bangunan itu menunjukkan luka-luka. Di tengah rangkaian ibadah Jumat Agung, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto datang meninjau langsung kerusakan yang terjadi.

Dia tak sendirian. Didampingi pemuka agama dan jajaran TNI, Suharyanto melihat lebih dekat kondisi gereja. Kerusakan terlihat, terutama di bagian atas bangunan. Meski begitu, dia memastikan kerusakan itu sifatnya minor dan akan segera ditangani.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (topi hitam rompi cokelat) bersama pemuka agama dan jajaran TNI melihat kondisi Gereja Katolik Paroki Bunda Hati Kudus. (Dok BNPB)

Di lokasi, Suharyanto membagikan informasi terbaru dari BMKG. Angkanya cukup mencengangkan.

"Tadi dari BMKG sudah memberikan informasi kepada Bapak Pastor bahwa per siang ini sudah lebih 400 kali gempa susulan. Namun, BMKG menyatakan tidak ada lagi gempa yang skalanya lebih besar dari gempa utama yang 7,6 magnitudo tadi. Masyarakat silakan melaksanakan ibadah dengan tenang,"

Ucapnya, menenangkan. Ratusan gempa susulan memang kerap membuat trauma berkepanjangan, tapi informasi itu penting agar kepanikan tidak meluas.

Lalu, bagaimana dengan proses perbaikannya? Di sini, ada satu tahap administrasi yang harus dipenuhi. BNPB masih menunggu kabupaten menetapkan status kedaruratan. Itu jadi kunci.

"Jika Kabupaten Minahasa menetapkan status kedaruratan, maka perbaikan gereja ini dan beberapa rumah warga yang terdampak informasinya tidak sampai 10 rumah di Kecamatan Tombolo ini akan ditangani oleh Pemerintah Pusat melalui BNPB,"

Jelas Suharyanto. Skalanya memang tidak masif untuk permukiman, tapi tetap perlu penanganan serius.

Yang menarik, dia menegaskan soal anggaran. Nampaknya, pemerintah pusat tak mau lagi bertele-tele dengan birokrasi anggaran yang kaku saat bencana melanda.

"Setiap terjadi bencana, anggaran yang dibutuhkan akan didukung oleh Pemerintah Pusat. Kita tidak dibatasi, tergantung pada keadaan bencananya. Intinya kita bekerja sama untuk segera memperbaiki dan membantu masyarakat yang terdampak,"

tegasnya. Prioritasnya jelas: mengembalikan fungsi fasilitas publik dan aset warga secepat mungkin. Sinergi antara pusat, provinsi, dan daerah disebutkannya sebagai kunci utama.

Menutup kunjungan, harapannya sederhana tapi mendasar: agar fase pemulihan di Sulut bisa berjalan cepat. Aktivitas sosial, terlebih ibadah jelang Paskah, diharapkan kembali normal. Suharyanto juga mengajak semua pihak untuk tetap waspada. Dan tentu, berdoa agar frekuensi bencana di tanah air bisa berkurang di masa-masa mendatang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar