Ia mendesak kementerian terkait untuk memastikan seluruh personel Manggala Agni dilengkapi dengan perlengkapan standar keamanan tinggi. Bukan peralatan seadanya untuk menghadapi tugas berisiko seperti ini.
Namun begitu, perhatiannya tak hanya pada alat. Alex menyoroti hal lain yang kerap terlupakan: jaminan sosial. Ia menekankan pentingnya asuransi kesehatan dan keselamatan kerja bagi 956 personel Manggala Agni di Sumatera. Perlindungan semacam ini, katanya, adalah bentuk nyata kehadiran negara bagi keluarga para pahlawan di garis depan.
Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan rutin juga ia anggap krusial. Pekerjaan memadamkan api di tengah hutan dan lahan terbuka jelas menguras tenaga dan mental. Deteksi dini terhadap kondisi fisik petugas bisa mencegah banyak hal yang tidak diinginkan.
Sementara desakan untuk perbaikan sistem perlindungan bergulir, ancaman di lapangan belum reda. Data terbaru dari BPBD dan Damkar Riau per Selasa (31/3) mencatat masih ada 21 titik api yang tersebar. Bengkalis sendiri jadi wilayah dengan titik api terbanyak, delapan titik, dengan api masih aktif dan asap tebal.
Upaya pemadaman tentu terus berjalan. Di Pelalawan dan Indragiri Hilir, misalnya, petugas masih bekerja keras. Mereka melakukan penyekatan dengan alat berat, berusaha membendung api agar tidak melahap kawasan hutan yang lebih luas lagi.
Perjuangan mereka di lapangan, dengan segala keterbatasan dan risiko, menunggu jawaban konkret dari meja kebijakan. Agar korban berikutnya benar-benar bisa dihindari.
Artikel Terkait
Malaysia Terapkan WFH untuk Aparatur Sipil Negara Mulai April 2026
Kebakaran Hanguskan Delapan Ruang Kelas di SMPN 2 Samarinda, Tak Ada Korban Jiwa
Inflasi Maret 2026 Turun Didukung Stabilitas Harga Pangan
Petisi Ahli Siapkan 1.000 Pengacara Bela Polri, Sebut Gugatan Citizen Lawsuit Kasus Ijazah Jokowi Keliru