Di sisi lain, Presiden Lee Jae-myung menyambut hangat komitmen Indonesia. Ia secara khusus mengapresiasi peran Indonesia sebagai pemasok energi yang andal selama ini.
“Pasokan batu bara dan LNG dari Indonesia adalah pilar penting bagi stabilitas ekonomi kami,” ungkap Lee.
Ia menegaskan, kerja sama di bidang energi harus diperluas lagi untuk menjamin keamanan pasokan dan melindungi masyarakat dari gejolak krisis. Lee juga bernostalgia sejenak, mengenang sejarah panjang kolaborasi kedua negara – mulai dari proyek kendaraan listrik di Indonesia hingga kerja sama pertahanan yang saling menguntungkan.
Lalu, apa saja sepuluh poin kesepakatan konkret yang lahir dari pertemuan ini? Berikut rinciannya:
Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus.
Pembaruan Kerja Sama Ekonomi 2.0.
Kemitraan untuk pengelolaan Mineral Kritis.
Pengembangan Transformasi Digital.
Integrasi AI untuk bidang Kesehatan Dasar dan Pembangunan Manusia.
Akselerasi transisi menuju Energi Bersih.
Implementasi Teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS).
Layanan Industri Pembangkit Lepas Pantai.
Penegakan dan Perlindungan Kekayaan Intelektual.
Dan yang terakhir, Sinergi Finansial antara Danantara dan Exim Bank of Korea.
Dari daftar itu, terlihat betapa fokusnya kerja sama ini pada isu-isu masa depan: teknologi hijau, digitalisasi, dan ketahanan rantai pasok. Kunjungan kenegaraan ini jelas menandai babak baru. Hubungan Indonesia dan Korea Selatan tak lagi sekadar transaksi dagang, tetapi telah berubah menjadi aliansi strategis yang dibangun di atas fondasi teknologi tinggi dan jaminan energi.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Daya Beli Masyarakat Terjaga, Penjualan Mobil Melonjak 22% Menjelang Lebaran
Serangan Rudal Iran Lukai 14 Warga dan Rusakkan Wilayah Tengah Israel
Prabowo Kagumi Profesionalisme Prajurit Korsel dalam Kunjungan Perdana
Longsor Tutup Rel, KA Ciremai Terhenti di Bandung Barat