Seoul – Di tengah ketidakpastian global yang makin terasa, Indonesia dan Korea Selatan justru memilih untuk merapatkan barisan. Rabu lalu, tepatnya 1 April 2026, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Lee Jae-myung duduk berdampingan di Blue House, Seoul. Agenda utamanya? Memperkuat aliansi dengan menandatangani sepuluh nota kesepahaman baru yang ambisius.
Pertemuan bilateral ini bukan sekadar formalitas. Banyak yang melihatnya sebagai langkah strategis untuk menghadapi dinamika geopolitik dan ekonomi dunia yang sedang bergejolak. MoU yang ditandatangani, disaksikan langsung oleh kedua pemimpin dan sejumlah menteri, menjangkau sektor-sektor yang dianggap kunci di masa depan.
Mulai dari pengembangan kecerdasan buatan untuk kesehatan, kemitraan pengelolaan mineral kritis, hingga kerja sama finansial yang lebih erat antara Danantara dan Exim Bank Korea. Rupanya, hubungan kedua negara sedang bertransformasi.
“Kita punya kapasitas untuk saling melengkapi,” ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Ia menekankan, Indonesia datang dengan kekayaan sumber daya alam dan pasar yang besar. Sementara Korea Selatan, menurutnya, membawa keunggulan di bidang sains dan teknologi industri yang tak diragukan lagi. Sinergi ini, bagi Prabowo, adalah kunci menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti posisi kedua negara sebagai kekuatan menengah di kawasan. Menurut Prabowo, perdamaian yang sejati harus didukung oleh ketahanan dan sistem pertahanan yang solid – sebuah isyarat yang cukup jelas tentang kedalaman kerja sama yang diinginkan.
Artikel Terkait
Daya Beli Masyarakat Terjaga, Penjualan Mobil Melonjak 22% Menjelang Lebaran
Serangan Rudal Iran Lukai 14 Warga dan Rusakkan Wilayah Tengah Israel
Prabowo Kagumi Profesionalisme Prajurit Korsel dalam Kunjungan Perdana
Longsor Tutup Rel, KA Ciremai Terhenti di Bandung Barat