Nah, kembali ke dalam negeri. Pelaku pasar juga melihat langkah pemerintah dengan cukup positif. Mereka menilai kebijakan efisien yang akan dijalankan bisa memberi dampak baik.
Tapi begitu, tetap ada kewaspadaan. Harga minyak yang masih bertengger di sekitar 100 dolar AS per barel bikin hati-hati. Ini jadi semacam ganjalan di tengah sentimen positif tadi.
Untuk data ekonomi kita, inflasi Maret 2026 diperkirakan melandai jadi 3,65 persen, turun dari bulan Februari. Insentif tarif listrik dan harga pangan yang stabil pasca Lebaran jadi faktor pendorongnya.
Rully juga menambahkan soal neraca perdagangan. "Diperkirakan masih surplus sekitar 1,5 miliar dolar AS, lebih baik dari bulan sebelumnya," ungkapnya. Baik ekspor maupun impor sama-sama mengalami kenaikan, tapi surplusnya tetap terjaga.
Jadi, pagi ini rupiah bernafas lega. Kombinasi sentimen global yang membaik dan proyeksi data domestik yang tidak buruk memberinya ruang untuk menguat. Tentu, semua mata tetap tertuju pada gejolak harga komoditas dan dinamika politik global yang bisa berubah kapan saja.
Artikel Terkait
Fuji Utami Tegaskan Tak Arahkan Gala Sky ke Dunia Hiburan
Pemerintah Wajibkan ASN WFH Setiap Jumat untuk Hemat Energi, Potensi Penghematan Capai Rp 6,2 Triliun
Dishub Bogor Tilang Taksi Konvensional Jakarta karena Ngetem dan Operasi di Luar Wilayah
PP TUNAS Diresmikan, Perlindungan Anak di Ruang Digital Diperkuat Jelang Hari Penyiaran