Pemerintah Wajibkan ASN WFH Setiap Jumat untuk Hemat Energi, Potensi Penghematan Capai Rp 6,2 Triliun

- Rabu, 01 April 2026 | 13:40 WIB
Pemerintah Wajibkan ASN WFH Setiap Jumat untuk Hemat Energi, Potensi Penghematan Capai Rp 6,2 Triliun

Kebijakan bekerja dari rumah alias WFH kembali digaungkan pemerintah. Kali ini, tujuannya jelas: menghemat energi. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak global yang dipicu ketegangan di Timur Tengah. Indonesia ternyata tak sendirian. Beberapa negara lain sudah lebih dulu menerapkan skema serupa untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Aturannya sendiri diumumkan dalam jumpa pers Selasa lalu. Untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), WFH wajib dilakukan satu hari dalam sepekan, tepatnya setiap hari Jumat. Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, pemilihan Jumat bukan tanpa alasan.

"Mengapa dipilih Jumat? Sebenarnya beberapa kementerian sudah menerapkan pola kerja empat hari seminggu pasca-COVID dengan aplikasi. Jadi semacam kelanjutan saja," jelas Airlangga dalam konferensi pers virtual.

Sementara untuk sektor swasta, kebijakan ini masih bersifat imbauan. Pemerintah menyerahkan pelaksanaannya pada karakteristik dan kebutuhan masing-masing sektor usaha. Meski begitu, dampak penghematannya diproyeksikan luar biasa besar.

Airlangga menyebut potensi penghematan untuk APBN bisa mencapai Rp 6,2 triliun, terutama dari kompensasi BBM. Angka yang fantastis, bukan?

Nah, jika melihat ke luar negeri, sejumlah negara sudah bergerak lebih cepat. Pakistan, misalnya. Negeri itu langsung mengambil langkah drastis dengan meminta 50% pekerjanya WFH dan memperpanjang libur sekolah sejak awal Maret. Harganya minyak yang melambung di atas 100 dolar AS per barel membuat mereka kelimpungan. Apalagi, Pakistan baru saja menaikkan harga bensin dan solar dengan kenaikan terbesar dalam sejarah mereka. Wajar saja, mengingat hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor.

Di Thailand, kebijakannya lebih detail. Para pegawai negeri diimbau kerja dari rumah, kecuali yang harus melayani publik langsung. Mereka juga mengatur AC di kantor pada suhu 26-27 derajat, memakai kemeja lengan pendek, dan mematikan peralatan listrik yang tak terpakai. Bahkan, ada imbauan untuk naik tangga ketimbang lift. Perjalanan dinas ke luar negeri ditunda, dan masyarakat didorong untuk nebeng bareng atau carpooling.

Sementara itu, Vietnam merasakan dampak yang cukup berat. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, gangguan pasokan langsung terasa. Harga bensin meroket 32%, solar 56%, dan minyak tanah melonjak gila-gilaan sampai 80%. Akibatnya, antrean panjang di SPBU pun tak terhindarkan. Pemerintah pun mendesak pelaku usaha agar mengizinkan karyawannya WFH dan melarang spekulasi bahan bakar.

Langkah serupa diambil Sri Lanka. Mereka tak cuma mengimbau WFH, tapi juga memangkas jam kerja. Lembaga pemerintah hanya beroperasi empat hari seminggu, dengan Rabu ditetapkan sebagai "hari libur". Kebijakan penghematan ini juga berlaku untuk sekolah dan kampus.

Terakhir, ada Mesir. Negeri Piramida itu meminta toko, restoran, dan kafe tutup lebih awal, pukul 21.00 waktu setempat. Lampu jalan dan papan iklan di pinggir jalan juga dipadamkan. Sistem WFH satu hari seminggu akan diberlakukan pada April mendatang. Namun begitu, pekerja di sektor krusial seperti rumah sakit, sekolah, dan pabrik dikecualikan dari aturan ini.

Jadi, gerakan WFH untuk hemat energi ini memang sedang menjadi tren global. Responsnya beragam, dari yang sekadar imbauan sampai aturan ketat. Tujuannya satu: bertahan di tengah gejolak harga energi yang belum jelas ujungnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar