Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Puan Maharani Desak Investigasi

- Selasa, 31 Maret 2026 | 20:55 WIB
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Puan Maharani Desak Investigasi

Duka kembali menyelimuti tanah air. Tiga prajurit TNI, bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), gugur dalam serangan Israel. Insiden memilukan ini terjadi dalam dua peristiwa terpisah pada akhir Maret 2026 di wilayah Lebanon Selatan. Salah satu nama yang telah disebut adalah Praka Farizal Rhomadhon, anggota Kontingen Garuda yang bertugas menjaga perdamaian di tengah gejolak.

Merespon kabar duka ini, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan pernyataan dukacita yang mendalam.

“Atas nama DPR RI maupun pribadi, saya sampaikan dukacita mendalam atas gugurnya 3 anak bangsa yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan di Lebanon,” ungkap Puan dalam keterangan tertulisnya, Selasa (31/3/2026).

Ketiga prajurit itu gugur di tengah memanasnya konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah. Situasi yang memang sudah rawan. Puan pun mendukung langkah pemerintah yang meminta investigasi menyeluruh atas tragedi ini. Baginya, ini soal pertanggungjawaban.

“Negara berhak meminta pertanggungjawaban komunitas internasional sebagai bentuk perlindungan bagi setiap tumpah darah Indonesia,” tegasnya.

Bagi politisi PDI Perjuangan ini, pengorbanan mereka adalah pengingat yang nyata. Posisi Indonesia di dunia internasional tak cuma dibangun lewat kata-kata diplomatik, tapi juga lewat keberanian prajuritnya di garis depan konflik global. Itu sebabnya, penghormatan terbaik adalah dengan memastikan pengabdian mereka memperkuat kesadaran, baik di dalam negeri maupun di mata dunia.

“Kesadaran bahwa perdamaian dunia bukan agenda yang jauh dari kepentingan Indonesia, melainkan bagian dari tanggung jawab yang selalu memiliki konsekuensi nyata,” ujarnya.

Dan konsekuensi itu, menurutnya, kadang sangat berat.

“Keterlibatan Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia tidak pernah berada di ruang yang sepenuhnya aman, meskipun dijalankan di bawah mandat internasional,” tambah Puan.

Selama ini, keikutsertaan Indonesia dalam misi PBB sering dilihat publik sekadar sebagai simbol diplomasi. Namun begitu, tragedi di Lebanon membuka mata. Di balik simbol itu, ada risiko nyata yang mesti dipahami sebagai bagian dari lanskap konflik global yang terus berubah di mana batas antara zona perang, wilayah sipil, dan area perlindungan PBB kian kabur dan berbahaya.

“Ketika prajurit Indonesia gugur dalam misi perdamaian, itu menunjukkan bahwa komitmen Indonesia terhadap perdamaian internasional selalu dibayar dengan tanggung jawab yang tidak ringan,” imbuhnya.

Dari sini, Puan menilai penting sekali menjaga keseimbangan. Antara komitmen kita pada dunia, dan perlindungan maksimal bagi personel yang kita kirim. Keberanian di medan tugas harus diimbangi dengan kesiapan negara memetakan setiap perkembangan ancaman dengan lebih cermat dan adaptif.

Ia berharap insiden pilu ini bisa membuka mata semua pihak. Terutama bagi mereka yang masih berseteru.

“Perang harus segera dihentikan! Sudah berapa banyak korban berjatuhan demi kekuasaan pihak-pihak tertentu. PBB harus berani bertindak tegas,” serunya.

Di sisi lain, Puan mendorong pemerintah dan TNI untuk memberikan penghormatan tertinggi. Hak ketiga prajurit sebagai pahlawan kemanusiaan harus dipenuhi tanpa kompromi.

“Ketiga putra terbaik Indonesia tersebut gugur saat menjalankan tugas mulia sebagai penjaga perdamaian dunia. Sudah selayaknya Negara memberikan penghargaan sebaik-baiknya atas pengorbanan mereka,” tutupnya.

Sebuah pengorbanan yang meninggalkan duka, sekaligus pertanyaan besar tentang harga perdamaian di tengah dunia yang tak kunjung reda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar