Trump Pertimbangkan Hentikan Perang Iran, Fokus Beralih ke Target Militer Terbatas

- Selasa, 31 Maret 2026 | 20:45 WIB
Trump Pertimbangkan Hentikan Perang Iran, Fokus Beralih ke Target Militer Terbatas

Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bakal menghentikan perang dengan Iran. Ini menarik, lho. Padahal, Selat Hormuz jalur minyak vital dunia masih dalam keadaan tertutup.

Menurut laporan Wall Street Journal yang beredar Senin lalu, Trump dan tim dalam negerinya sudah sampai pada satu titik. Mereka merasa operasi militer untuk membuka paksa selat itu akan makan waktu terlalu lama. Bukan cuma lama, operasi tersebut malah berpotensi memperpanjang durasi perang, jauh melebihi perkiraan awal Trump yang cuma 4-6 minggu.

Di sisi lain, situasi di Teheran sendiri sedang kacau. Pembunuhan sejumlah pemimpin kunci Iran disebut-sebut membuat proses pengambilan keputusan di sana jadi mandek. Ya, mau negoisasi dengan siapa? Itu jadi persoalan serius bagi Washington.

Fokus Trump sekarang, begitu kata WSJ, lebih mengerucut pada penghancuran kemampuan rudal dan angkatan laut Iran. Padahal sebelumnya, upaya diplomatik jadi andalan untuk mendesak Iran membuka selat.

Ancaman Trump Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Nada Trump memang selalu berayun. Di satu sisi, pada hari Senin dia sempat menyebut ada "kemajuan besar" dalam negosiasi damai. Tapi di sisi lain, ancamannya tetap meluncur keras.

Kalau Selat Hormuz tidak segera "Dibuka untuk Bisnis", ancamnya, AS akan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin semua pabrik desalinasi!)".

Meski begitu, Trump terlihat optimis kesepakatan akan tercapai. Persiapan terus berjalan, termasuk dengan mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah dalam sepekan terakhir. Persiapan untuk operasi darat, katanya.

Namun begitu, banyak analis menduga langkah itu lebih sebagai bentuk tekanan. Upaya untuk memaksa Teheran menyetujui syarat-syarat yang diajukan Washington.

Kendala utamanya, seperti dilaporkan New York Times, adalah kekosongan kepemimpinan di Iran. Serangan AS dan Israel sejak perang meletus akhir Februari lalu telah menewaskan puluhan pejabat tinggi. Akibatnya, kemampuan Iran untuk mengambil keputusan penting jadi lumpuh.

Yang repot, ini juga mempersulit proses negosiasi. Para negosiator dari Iran yang masih bertahan mungkin tidak punya wewenang penuh, atau pengetahuan yang cukup tentang batas konsesi yang bisa diberikan pemerintah mereka. Jadi ya, negosiasi berjalan di tempat, seperti masuk labirin tanpa ujung.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar