“Jadi artinya apa? Yang kita ke depan impor yang paling banyak itu krut (minyak mentah).”
Untuk rinciannya, sebagian besar kebutuhan BBM seperti Pertamax (RON 90-98) sudah bisa dipenuhi produksi domestik. Kekurangannya diambil dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Sementara untuk LPG, pemerintah kini mengalihkan pasokan ke sumber-sumber di luar Timur Tengah, dengan Amerika Serikat jadi salah satu pilihan utama.
“LPG sekarang kita sudah dorong untuk mengambil di beberapa negara yang non-Middle East, terutama di Amerika. Jadi secara pasokan, insya Allah mohon doanya clear, nggak ada masalah,” tambahnya.
Lalu bagaimana dengan harga? Soal fluktuasi harga BBM non-subsidi yang kerap bikin resah, Bahlil meminta pengertian. Pemerintah butuh waktu untuk mengkaji dengan matang. Ia berjanji keputusan akhir nanti akan diambil secara bijak, dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat.
“Menyangkut dengan harga yang ada, kita kan tahu fluktuasinya kan terus-menerus yang non-subsidi. Kasih kami waktu untuk menyelesaikan dengan baik. Menyelesaikan dengan baik, bijak dan betul-betul dengan hal-hal yang wajar,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Tim Hukum Klaim Identifikasi 16 Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
Indodax Raih Dua Penghargaan Platform Kripto Terpercaya 2026
PBB Kecam RUU Hukuman Mati Israel, Sebut Kejam dan Diskriminatif
Gejolak Iran Ancam Rantai Pasok Industri, Harga BBM Dijamin Tak Naik