Di sisi lain, bagi Lestari, tragedi ini adalah alarm peringatan yang sangat serius. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa risiko bagi pasukan biru PBB masih sangat nyata dan tinggi, khususnya di kawasan rawan seperti Timur Tengah. Oleh karena itu, komitmen untuk melindungi mereka tidak boleh sekadar wacana di atas kertas. Harus ada langkah konkret di lapangan.
Tak cukup sampai di situ, ia juga mendesak tindakan tegas. Setiap serangan terhadap personel PBB harus diusut tuntas, tanpa ada ruang untuk impunitas atau kekebalan hukum. Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk menggencarkan diplomasi internasional, berupaya lebih keras meredam ketegangan yang ada.
Peringatannya lagi-lagi mengena. Di balik semua pernyataan resmi, yang tersisa adalah duka keluarga dan pertanyaan besar tentang keamanan para pahlawan yang dikirim untuk menjaga perdamaian orang lain. Situasinya rumit, dan jalan keluar tak pernah sederhana. Namun, satu hal yang jelas: perlindungan bagi mereka yang menjalankan misi mulia ini harus jadi prioritas utama. Bukan besok, tapi sekarang.
Artikel Terkait
Satgas PRR: 5.000 Sekolah di Aceh, Sumut, dan Sumbar Rusak Akibat Banjir dan Longsor
Kebakaran Ruko di Wamena Tewaskan 11 Orang
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Puan Maharani Desak Investigasi
Trump Pertimbangkan Hentikan Perang Iran, Fokus Beralih ke Target Militer Terbatas