Maros – Kasus ini benar-benar memilukan. Seorang siswi SMP di Maros, masih 15 tahun, menjadi korban child grooming dan pemerkosaan oleh seorang pria dewasa di Makassar. Kisahnya, sayangnya, adalah gambaran nyata tentang bagaimana retaknya hubungan keluarga bisa jadi celah bagi predator untuk menyasar anak-anak.
Korban, berinisial HN, mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh kekasihnya sendiri, JR (31). Menurut penyelidikan, pelaku dengan licin memanfaatkan kondisi keluarga korban yang sedang tidak baik. Dia membangun kedekatan, menguasai emosi gadis belia itu, lalu memanipulasinya.
Janji manis pernikahan di kemudian hari diumbar, agar korban mau tinggal bersamanya. Ironisnya, di balik janji itu, yang terjadi justru eksploitasi berulang. Di rumah pelaku, siswi itu disetubuhi hingga lima kali.
“Pelaku kemudian membawa korban ke rumahnya dan selama bersama, pelaku melakukan persetubuhan sebanyak lima kali,”
ungkap Kanit Jatanras Polrestabes Makassar, AKP Hamka, kepada wartawan, Minggu lalu.
Retakan di Rumah, Pintu Masuk bagi Predator
Lalu, apa sebenarnya child grooming itu? Menurut sejumlah literasi, ini adalah pendekatan manipulatif yang sistematis. Pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak, bukan untuk mendidik atau melindungi, tapi punya satu tujuan akhir: eksploitasi seksual.
Mereka mencari kepercayaan korban, yang umumnya masih labil secara psikologis. Caranya bisa lewat dunia maya, atau seperti dalam kasus ini dengan memanfaatkan kelemahan psikis anak. Saat korban sedang rapuh, jauh dari pengawasan, dan tertekan karena konflik keluarga, itulah momen yang dicari.
Intinya, anak-anak yang kurang dapat perhatian dan dukungan emosional dari keluarganya, lebih rentan jadi sasaran. Mereka yang tumbuh dengan pengasuhan lemah, seringkali belum punya batasan diri yang kuat untuk melawan manipulasi. Pelaku grooming memang jeli menyasar kesenjangan semacam ini.
Modus Operandi Sang "Groomer"
Biasanya, kontak pertama dimulai dari media sosial atau telepon. Polanya mirip dengan kasus HN. Awalnya cuma sambungan telepon, lalu berkembang jadi hubungan pacaran. Pelakunya punya skill memainkan emosi, tampil sebagai pendengar yang baik, terutama bagi korban yang sedang tertekan.
Mereka juga ahli menyamar. JR contohnya, menggunakan foto profil pria yang lebih muda untuk mengelabui. Empati berlebihan ditunjukkan, seolah-olah mereka paling peduli dan paham. Sosok yang bisa dipercaya, tempat berlindung yang aman itulah topeng yang dipakai.
Faktor kesenjangan sosial dan ekonomi ternyata punya peran besar. Ketika orang tua sibuk atau tak mampu memberi dukungan memadai, anak yang merasa diabaikan jadi mudah dipengaruhi pihak luar. Konflik keluarga dan beban emosional hanya memperbesar kerentanan ini.
Anak yang kesepian dan merasa tak dicintai di rumah, akan mudah terpikat oleh figur yang tiba-tiba memberi perhatian. Ketika rasa percaya dan ketergantungan itu sudah terbentuk, sulit bagi korban untuk menolak. Persis seperti HN yang menolak diantar pulang dan memilih tinggal bersama JR.
Pondasi Utama Ada di Tangan Orang Tua
Lantas, bagaimana mencegahnya? Langkahnya harus terintegrasi. Tapi fondasi utamanya jelas ada di keluarga. Kapasitas pengasuhan orang tua perlu dikuatkan. Parenting skills dan kemampuan menyelesaikan masalah dalam rumah tangga adalah kunci pertama.
Ikatan yang sehat dan aman antara orang tua dan anak mutlak diperlukan. Komunikasi harus terbuka, dibarengi kepercayaan dan batasan yang jelas tentang isu sensitif. Dengan begitu, anak paham cara melindungi dirinya sendiri.
Di sisi lain, lingkungan sosial juga harus bisa jadi support system. Jangan biarkan keluarga menghadapi persoalan pengasuhan sendirian.
Kronologi Kesedihan yang Berawal dari Salah Sambung
Menurut AKP Hamka, semua berawal dari sebuah telepon. HN awalnya ingin menghubungi anak dari JR. Tapi yang mengangkat justru JR sendiri. Dari percakapan itu, komunikasi mereka terus berlanjut.
“Awalnya korban ingin menghubungi anak pelaku, namun yang merespons justru pelaku. Dari situ komunikasi berlanjut sampai akhirnya pelaku mengaku menggunakan identitas aslinya dan menjalin hubungan dengan korban,”
beber Hamka.
JR memikat korban dengan foto profil palsu. HN yang datang ke Makassar untuk Lebaran, pada hari ketiga, tepatnya 19 Maret 2026, keluar rumah sekitar pukul satu siang dan tak kembali. Keluarganya panik dan melapor.
“Korban ke Makassar untuk merayakan Lebaran bersama keluarganya. Pada hari ketiga yaitu tanggal 19 Maret 2026 korban terlihat meninggalkan kediaman sekitar pukul 13.00 Wita,” jelasnya.
Ternyata, JR memesan taksi online untuk menjemput HN di Tanjung Bunga. Mereka bertemu di sebuah mal. Usai pertemuan, JR sempat berniat mengantar pulang. Tapi dia melihat celah. Memanfaatkan ketidakharmonisan HN dengan keluarganya, dia membujuk gadis itu untuk tidak pulang.
HN menolak diantar. Akhirnya, dibawalah dia ke rumah JR di Barombong.
“Dari hasil penyelidikan, korban diketahui bersama pelaku di wilayah Barombong. Tim kemudian bergerak ke lokasi dan berhasil mengamankan keduanya,” kata Hamka menutup penjelasan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Panen Raya Udang di Kebumen, Sebut Potensi Ekonomi Tambak Modern Sangat Besar
Perempuan 20 Tahun Tewas Terlindas Truk di Sidoarjo, Polisi Buru Pengemudi Mobil yang Kabur
Mantan Kepala Bulog Bulukumba Kembalikan Rp1,41 Miliar Uang Korupsi Beras SPHP
Lonjakan Penumpang di Pelabuhan Bajoe Diprediksi Puncak 26 Mei, ASDP Siapkan Ekstra Trip