“Kami juga menyalurkan bantuan modal usaha kepada kelompok usaha bersama (KUBE) sebanyak 57 KUBE untuk meningkatkan pendapatan fakir miskin,”
tambah Erwan.
Angka Pengangguran Juga Menyusut
Kabar baik lainnya datang dari pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat berhasil turun tipis, dari 6,75 persen di 2024 menjadi 6,66 persen di tahun lalu. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar enam atau tujuh orang masih belum mendapat pekerjaan. Capaian ini bahkan melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yaitu 6,99 persen.
Menurut Erwan, penurunan ini didorong oleh membaiknya penyerapan tenaga kerja di beberapa sektor kunci. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap tambahan 100 ribu orang. Sektor pendidikan menyerap 50 ribu, sementara akomodasi dan makan minum bertambah 40 ribu pekerja.
Namun begitu, tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. Sektor pertambangan dan penggalian justru kehilangan 40 ribu pekerjaan.
Secara keseluruhan, kontributor terbesar penyerapan tenaga kerja di Jabar masih didominasi oleh sektor reparasi mobil dan motor (22,44%), diikuti industri pengolahan (18,61%), dan pertanian (15,43%). Pola ini menunjukkan, ekonomi Jabar masih bertumpu pada sektor-sektor tradisional yang padat karya, meski perlahan ada pergeseran.
Jadi, meski tantangan ke depan masih berat, setidaknya langkah awal di 2025 ini memberikan sinyal yang positif. Angka-angka itu mulai bergerak ke arah yang diharapkan.
Artikel Terkait
Haedar Nashir Kutuk Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI, Salah Satunya Kader Muhammadiyah
LPPOM MUI Tegaskan Kue Berbentuk Hewan Tertentu Tak Bisa Disertifikasi Halal
Kuwait Tuduh Iran Serang Kapal Tanker Minyaknya di Dekat Dubai
Empat Tersangka Penganiayaan Aktivis KontraS Ditahan di Sel Maksimum Pomdam Jaya