Langkah blokade yang dilakukan Iran sendiri adalah bentuk pembalasan. Sejak serangan gabungan AS-Israel akhir Februari lalu, mereka menutup sebagian besar jalur minyak global di selat itu. Imbasnya langsung terasa: harga energi global langsung meroket.
Di sisi lain, pada Senin lalu, Trump sempat menyebut ada "kemajuan besar" dalam negosiasi untuk mengakhiri perang.
Tapi pesannya juga keras. Peringatannya jelas.
Kalau kesepakatan tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak segera "Dibuka untuk Bisnis", AS akan melanjutkan dengan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin semua pabrik desalinasi!)".
Jadi, situasinya seperti ini: ada sinyal diplomasi, tapi ancaman penghancuran total masih menggantung sangat jelas.
Artikel Terkait
WFH Setiap Jumat Berlaku untuk ASN, Kecuali Sektor Krusial
Aturan Kewarganegaraan Tunggal Ancam Masa Depan Pemain Naturalisasi di Liga Belanda
Pemerintah Tetapkan WFH Jumat dan Pangkas Perjalanan Dinas Mulai 1 April
Sisca Saras dan NecoMe Jepang Kolaborasi Perkenalkan Hipdut ke Pasar Global