Jakarta - Fenomena El Niño yang dijuluki 'Godzilla' mulai jadi perhatian serius. Meski dampaknya masih dianggap terukur, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengingatkan industri untuk tidak lengah. Potensi gangguan iklim ekstrem ini bisa membawa konsekuensi nyata.
Menurut Ketua Umum AAUI, Budi Herawan, ancaman utamanya adalah peningkatan eksposur risiko. Kekeringan parah, karhutla, sampai gangguan operasional dan rantai pasok di sektor tertentu bisa melonjak. "Namun begitu," katanya, "perlu dipisahkan antara dampak ekonomi dan dampak finansial bagi asuransi."
Alasannya sederhana: protection gap di Indonesia masih tinggi. Artinya, tidak semua kerugian ekonomi terlindungi polis asuransi.
Jadi, meski kerugian ekonomi secara nasional bisa membengkak, dampak klaim bagi perusahaan asuransi umum belum tentu sebesar itu. Semuanya bergantung pada tingkat penetrasi asuransi di sektor-sektor terdampak.
Lalu, produk asuransi apa yang paling berisiko? Budi menyebutkan beberapa. Asuransi properti, terutama untuk risiko kebakaran, ada di urutan teratas. Lalu ada engineering insurance, marine cargo, dan business interruption jika operasional atau distribusi barang terhambat.
“Sektor-sektor yang hidupnya bergantung pada cuaca juga harus diawasi,” ungkap Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama itu.
Maksudnya adalah pertanian, perkebunan, kehutanan, energi, dan distribusi air. Semua ini berpotensi meningkatkan eksposur risiko di berbagai lini asuransi umum.
Oleh karena itu, ada beberapa hal kritis yang harus diwaspadai industri. Pertama, potensi akumulasi klaim di wilayah dan sektor yang sama. Kedua, kenaikan tingkat keparahan (severity) klaim, khususnya untuk kebakaran. Lalu, bagaimana jika kejadiannya luas atau berulang? Proses survei, penyesuaian kerugian (loss adjustment), dan penyelesaian klaim pasti akan terbebani.
Di sisi lain, Budi menyebut industri juga perlu mengecek kecukupan reasuransi, pemetaan eksposur, dan kejelasan wording polis. Soal kesiapan, sebenarnya industri punya pengalaman menghadapi bencana dan cuaca ekstrem.
Tapi pola iklim sekarang makin sulit ditebak. “Industri perlu terus memperkuat underwriting, manajemen akumulasi risiko, early warning, serta koordinasi dengan reasuradur dan pihak terkait,” tegasnya.
Lebih jauh, fenomena seperti El Niño Godzilla ini diprediksi bakal mengubah cara perusahaan asuransi melihat risiko. Penyesuaian risk appetite dan tolerance akan terjadi, bukan cuma dalam desain produk, tapi hingga ke proses seleksi risiko.
Ke depannya, perusahaan asuransi akan lebih jeli lagi. Mereka akan menilai lokasi pertanggungan, jenis objek yang diasuransikan, kualitas proteksi, sampai rekam jejak pengelolaan risiko calon nasabah. Akumulasi eksposur di wilayah rawan bakal jadi pertimbangan utama.
“Penyesuaian ini juga akan terlihat pada persyaratan underwriting, kebutuhan pencegahan kerugian, besaran deductible, dan pendekatan tarif yang lebih hati-hati untuk risiko tinggi,” tutup Budi.
Intinya, cuaca ekstrem bukan hal baru. Tapi skalanya yang makin besar memaksa semua pihak untuk mengencangkan ikat pinggang dan menyiapkan strategi yang lebih matang.
Artikel Terkait
KPK Periksa Dua Mantan Pejabat Balai Perkeretaapian Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Jalur Kereta Api
Presiden Taiwan Tegaskan Masa Depan Pulau Tak Boleh Ditentukan Kekuatan Asing di Tengah Ketegangan dengan China
RSUD Palabuhanratu Klarifikasi Video Viral Anak Berbaju Putih, Bukan Penampakan Gaib
Alex Marquez Alami Patah Tulang Selangka dan Cedera Tulang Leher Usai Kecelakaan di MotoGP Catalunya