Presiden Taiwan, Lai Ching-te, dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada kekuatan asing yang berhak menentukan masa depan pulau demokrasi tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah ketergantungan Taiwan yang besar pada dukungan keamanan Amerika Serikat untuk mengantisipasi potensi ancaman militer dari China. Dalam pidato yang menandai dua tahun masa kepresidenannya, Lai menekankan bahwa masa depan Taiwan tidak boleh disandera oleh rasa takut, perpecahan, atau kepentingan jangka pendek pihak mana pun.
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebutkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan bisa dijadikan alat tawar-menawar dengan China. China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali mengancam akan merebutnya dengan kekerasan. Pernyataan Trump itu pun memicu reaksi keras dari pemerintah Taiwan yang bersikeras bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah.
Trump baru saja melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Presiden China Xi Jinping mendesak pemimpin AS untuk tidak memberikan dukungan kepada Taiwan. Namun, pemerintah Taiwan menegaskan bahwa Trump tidak membuat komitmen apa pun kepada China terkait penjualan senjata ke pulau tersebut. Taiwan juga menyebut China sebagai akar penyebab ketidakstabilan regional dan menilai penjualan senjata AS merupakan komitmen hukum untuk membela demokrasi Taiwan.
Dalam pidatonya pada Rabu (20/5), Lai Ching-te mengumumkan peningkatan pengeluaran pertahanan. Langkah ini, menurutnya, bertujuan untuk mencegah perang, bukan untuk memulainya. Ia menekankan bahwa ancaman terhadap Taiwan saat ini lebih besar dari sebelumnya. “Taiwan harus memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dan untuk menjaga perdamaian serta stabilitas di Selat Taiwan,” ujar Lai.
Artikel Terkait
Kajari Medan Bantah Tuduhan Pemerasan Kontraktor di Kupang: Itu Fitnah
Tiga Girl Group HYBE — LE SSERAFIM, ILLIT, dan KATSEYE — Rilis Single Kolaborasi “ICONIC BY MISTAKE” Pekan Ini
SBY Sebut Penguatan Rupiah dan IHSG sebagai Kabar Baik, Dorong Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Vonis Ringan Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Dinilai Tak Berkeadilan