Artinya, ada harapan besar untuk saling belajar. Dari cara menjaga kelestarian hingga mengemas wisata alam agar lebih menarik, tapi tetap berkelanjutan. Pihak Jepang, yang diwakili oleh Direktur Fuji-Hakone-Izu National Park Shichimeko Shuichi, dikabarkan menyambut baik. Rencananya, akan segera diadakan workshop teknis untuk menjabarkan kerangka kerjanya.
Namun begitu, kerja sama ini ternyata cuma satu bagian dari agenda yang lebih luas. Sebelumnya, pada Sabtu (28/3), Menhut sudah lebih dulu menandatangani MoU breeding loan untuk Komodo dengan Gubernur Prefektur Shizuoka. Jadi, diplomasi konservasi antara kedua negara ini berjalan dua arah: dari ekosistem hingga satwa langka ikonik.
Raja Juli menegaskan bahwa semua ini bukan kebetulan.
Jadi, di balik upaya pelestarian alam, ada juga misi politik dan hubungan bilateral yang ingin ditingkatkan. Semuanya berjalan beriringan. Tinggal nanti, eksekusinya di lapangan seperti apa. Itu yang dinantikan.
Artikel Terkait
Kepala Otorita IKN: Kantor Wapres di IKN Siap, Tunggu Keputusan
Rusia Usir Diplomat Inggris Diduga Mata-Mata, Hubungan Kedua Negara Memanas
Gus Ipul Minta Kepala Desa Hidupkan Puskesos untuk Perkuat Data Bansos
DPRD Nagekeo Desak Kajian Ahli Geologi Atasi Retakan Lereng di Keo Tengah