"Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali," sebut Anutin lagi.
Memang, dampak dari kemacetan di Selat Hormuz ini luar biasa. Menurut data Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan LNG yang lewat selat itu tujuan akhirnya adalah kawasan Asia. Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, merasakan betul imbasnya. Kelangkaan bahan bakar sempat terjadi, antrean panjang di pom bensin pun jadi pemandangan yang semakin biasa.
Di sisi lain, pemerintah Thailand tampaknya tak mau lengah. Anutin menegaskan bahwa mereka akan terus memantau perkembangan.
"Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat," pungkasnya.
Nah, dengan kesepakatan ini, setidaknya ada secercah harapan bagi stabilitas pasokan energi Thailand dan mungkin juga kawasan di tengah situasi global yang masih belum pasti.
Artikel Terkait
Iran Beri Sinyal Positif untuk Kapal Pertamina Melintasi Selat Hormuz
Menteri PU Pantau Arus Balik, Jasa Marga Siapkan Rekayasa Lalu Lintas hingga Rest Area
Jalur Darurat Pengganti Jembatan Asam 3 di Kupang Akhirnya Dibuka
Arus Balik Lebaran 2026 Mulai Padat, Volume Kendaraan di Empat Gerbang Tol Naik 17%