Yang tak kalah penting, persoalan pangan dan energi. Menurut Haryo, Indonesia sudah mencapai swasembada untuk sejumlah komoditas pangan kunci. Di sektor energi, program biodiesel bahkan menghasilkan surplus produksi. Kondisi ini jadi bantalan yang cukup vital untuk menahan dampak gejolak dari luar.
Namun begitu, pemerintah tampaknya tak mau berpuas diri. Transformasi ekonomi lewat hilirisasi industri, penguatan investasi, dan akselerasi digitalisasi masih terus didorong. Pengembangan kendaraan listrik dan energi baru terbarukan, misalnya, digadang-gadang sebagai strategi jangka panjang untuk membuka sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.
Ke depan, optimisme tetap dijaga. Pemerintah memproyeksikan ekonomi bisa tumbuh sekitar 5,4 persen di tahun 2026, dengan stabilitas yang terjaga dan reformasi struktural yang berkelanjutan.
“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global,” kata Haryo menutup pernyataannya.
Prinsip kehati-hatian, katanya, akan tetap diutamakan dalam merespons dinamika global yang serba tak pasti ini. Tujuannya satu: memastikan daya tahan ekonomi nasional tetap kuat di tengah badai ketidakpastian.
Artikel Terkait
Pendukung Maduro Berunjuk Rasa di Luar Pengadilan New York
Seo Kang Joon hingga Jisoo BLACKPINK, Ini 5 Rekomendasi Drama untuk Temani Libur Lebaran
Lebih dari 9 Juta Wajib Pajak Sudah Laporkan SPT Tahunan 2025
Data WIPO 2024: China hingga Korea Selatan Kuasai 4 Besar Paten Global, Indonesia Peringkat 29