Seorang dokter militer disebut-sebut termasuk di antara korban tewas. Sementara itu, dari pihak PMF, sedikitnya enam orang terluka dalam insiden ini. Situasinya benar-benar kacau.
Ini adalah pukulan kedua dalam waktu singkat. Sehari sebelumnya, tepatnya Selasa (24/3), serangan di pangkalan yang sama telah menewaskan 15 anggota PMF, termasuk seorang komandan. Banyak yang menilai serangan ini termasuk yang paling parah sejak ketegangan di kawasan ini memanas belakangan.
Pemerintah Irak geram. Mereka dikabarkan akan membawa kasus terbaru ini ke meja Dewan Keamanan PBB dengan pengaduan resmi. Sementara itu, PMF sudah lebih dulu menuding Amerika Serikat berada di balik serangan sebelumnya.
Memang, Pentagon tak sepenuhnya menyangkal. Mereka mengakui helikopter tempur AS pernah menyerang kelompok bersenjata pro-Iran di Irak dalam konflik yang berlarut-larut. Namun begitu, pemerintah Irak sendiri bersikap tegas: mereka mengutuk semua serangan, baik yang menargetkan kepentingan asing maupun posisi pasukan mereka sendiri di dalam negeri.
Udara di Irak terasa semakin pengap. Ketegangan ini merayap naik pasca konflik yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran akhir Februari lalu. Gelombangnya kini terasa menjalar ke berbagai sudut Timur Tengah, dan korban terus berjatuhan.
Artikel Terkait
Operasi Ketupat 2026 Berakhir, Satu Personel Gugur Akibat Kelelahan Ekstrem
Pimpinan IRGC Tantang AS: Coba Lakukan Invasi Darat, Kami Sudah Siap
Korlantas: 42% Pemudik Belum Kembali, Antisipasi Puncak Balik Kedua
Polri Siagakan Personel hingga 29 Maret, 42 Persen Pemudik Belum Kembali ke Jakarta