Kondisi geografis yang sporadis ini, kata Tito, jadi tantangan besar. "Kalau kita masuk ke daerah yang dekat sungai itu kena. Jadi ini sifatnya tersebar, sporadis. Itu yang membuat penanganannya membutuhkan waktu," jelasnya.
Meski rumit, upaya perbaikan tetap digenjot. Satgas mengambil dua pendekatan sekaligus: tanggap darurat untuk cegah dampak lanjutan, lalu rehabilitasi dan rekonstruksi untuk perbaikan permanen. Kabar baiknya, pemulihan di sektor lain sudah mulai terlihat. Jalan nasional utama sudah berfungsi normal 100 persen, sehingga distribusi logistik dan alat berat untuk perbaikan sungai tidak lagi terkendala.
Di sisi lain, pemerintah berusaha agar penanganan sungai ini terintegrasi. Tidak berdiri sendiri, tapi menyatu dengan pemulihan sektor pertanian, tambak, serta permukiman warga di sepanjang bantaran. Bagi Tito, ukuran kesuksesan pemulihan pascabencana tidak cuma dilihat dari berkurangnya tenda pengungsian.
"Variabel yang kita lihat bukan hanya pengungsi, tapi juga sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya," tegasnya. "Semua itu menjadi bagian dari pemulihan."
Intinya, tujuan akhirnya adalah mengembalikan keamanan dan produktivitas wilayah. Agar kehidupan warga yang bergantung pada aliran sungai bisa kembali berdenyut, seperti sedia kala.
Artikel Terkait
Anggota DPR Usulkan Rabu Sebagai Hari Kerja dari Rumah, Khawatir Jumat Picu Libur Panjang
Arus Mudik Lancar di Brebes-Tegal Meski Volume Kendaraan Capai 300 Ribu
Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Pangkal Balam Mulai Bergerak, Roro Tertunda
Kondisi Mata Andrie Yunus Memburuk, RSCM Temukan Iskemia dan Lakukan Operasi Lanjutan