Meta Didenda Rp6 Triliun di New Mexico Atas Gugatan Keselamatan Anak

- Rabu, 25 Maret 2026 | 16:20 WIB
Meta Didenda Rp6 Triliun di New Mexico Atas Gugatan Keselamatan Anak
Meta Dihukum di New Mexico

Selasa lalu, di sebuah ruang sidang di New Mexico, juri menyampaikan keputusan yang cukup mengejutkan. Mereka memutuskan Meta Platforms, raksasa teknologi di balik Facebook dan Instagram, bertanggung jawab dalam gugatan yang menyangkut keselamatan anak-anak. Intinya, juri melihat Meta dengan sengaja merugikan kesehatan mental anak muda. Tak cuma itu, perusahaan dituding menyembunyikan fakta soal eksploitasi seksual anak yang terjadi di platform mereka.

Persidangan yang berlangsung alot hampir tujuh minggu itu akhirnya berbuah putusan. Jaksa Agung New Mexico, Raúl Torrez, yang mengajukan kasus ini, boleh bernapas lega. Setelah berunding kurang dari sehari, juri sepakat Meta melanggar undang-undang perlindungan konsumen setempat.

Hukumannya? Denda perdata yang tak main-main: 375 juta dolar AS, atau kalau dirupiahkan sekitar 6 triliun.

Ini catatan penting. Putusan di New Mexico ini adalah yang pertama kalinya sebuah juri memutuskan melawan Meta dalam kasus eksploitasi anak. Sementara itu, di pengadilan federal California, juri lain masih terisolasi dan berdebat lebih dari seminggu. Mereka sedang mempertimbangkan apakah Meta dan YouTube juga harus bertanggung jawab untuk kasus serupa.

Dosa-Dosa yang Terungkap

Apa sih yang ditemukan juri? Mereka sepakat dengan jaksa bahwa Meta membuat pernyataan-pernyataan yang menyesatkan soal keamanan platformnya bagi anak-anak. Lebih parah lagi, juri menilai perusahaan ini melakukan praktik perdagangan yang "tidak bermoral". Mereka dianggap memanfaatkan kerentanan dan ketidakberpengalaman anak-anak.

Ribuan pelanggaran ditemukan. Masing-masing dihitung, lalu diakumulasi hingga mencapai angka denda fantastis tadi.

Reaksi Jaksa Agung Torrez punya nada kemenangan.

"Ini kemenangan bersejarah bagi setiap anak dan keluarga yang telah membayar harga karena Meta menempatkan keuntungan di atas keselamatan," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan, "Besarnya ganti rugi ini harus jadi pesan keras bagi para eksekutif perusahaan teknologi besar. Tidak ada perusahaan yang kebal hukum."

Meta Tak Terima, Akan Banding

Di kubu Meta, tentu saja responsnya berbeda. Lewat juru bicaranya, perusahaan menyatakan tidak setuju dengan putusan tersebut dan berencana mengajukan banding.

"Kami sudah berusaha keras menjaga keamanan pengguna di platform kami. Kami juga selalu terbuka soal tantangan dalam mengidentifikasi dan menghapus konten berbahaya," kata juru bicara itu.

"Kami akan terus membela diri dan yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara online."

Denda Besar, Tapi Masih 'Kecil' bagi Meta?

Meski jadi preseden hukum yang penting, angka 375 juta dolar AS sebenarnya jauh dari tuntutan awal jaksa yang mencapai 2,2 miliar dolar. Salah seorang juri, Linda Payton, mengaku mereka berkompromi soal perkiraan jumlah remaja yang terdampak. Tapi untuk setiap pelanggaran yang terbukti, mereka memilih hukuman maksimum: 5.000 dolar.

Lalu, apakah denda ini akan menggoyang Meta? Secara finansial, mungkin tidak signifikan. Nilai perusahaan Mark Zuckerberg itu diperkirakan sekitar 1,5 triliun dolar. Uniknya, saham Meta malah naik beberapa jam setelah putusan keluar. Sepertinya para investor tidak terlalu khawatir.

Namun, ceritanya belum selesai. Persidangan akan masuk tahap kedua pada bulan Mei nanti. Kali ini, hakim bukan juri yang akan memutuskan. Pertanyaannya: apakah Meta harus membiayai program publik untuk menangani dampak kerugian yang mereka sebabkan? Torrez sudah bersiap meminta pengadilan memaksa Meta melakukan perubahan, plus sanksi finansial tambahan.

Masalah Meta ternyata masih panjang. Perusahaan ini menghadapi ribuan gugatan lain yang intinya sama: menuduh Meta dan platform media sosial lain sengaja merancang produk agar bikin anak muda kecanduan. Gugatan-gugatan itu disebut-sebut berkontribusi pada krisis kesehatan mental nasional di AS. Beberapa di antaranya bahkan menuntut ganti rugi hingga puluhan miliar dolar.

Di sisi lain, gelombang kekhawatiran terhadap media sosial ini memicu respons berbeda di berbagai tempat. Sejumlah negara bagian dan negara lain mulai memberlakukan atau setidaknya mempertimbangkan larangan penggunaan media sosial untuk anak-anak.

Jadi, meski denda 6 triliun rupiah itu terdengar besar, ini mungkin baru babak pembuka dari pertarungan hukum panjang antara regulator, publik, dan raksasa teknologi.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar