Nama AKBP Muhammad Taufiq, Kapolres Aceh Tengah, belakangan mencuat. Bukan karena kasus besar, melainkan karena gaya kepemimpinannya yang dianggap berbeda. Bupati setempat, Haili Yoga, sampai-sampai mengusulkan sang polisi sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026. Alasannya sederhana: Taufiq dinilai sebagai pemimpin yang total melayani dan mudah diajak bicara.
“Dari awal kami bertemu beberapa bulan lalu, sikapnya langsung terasa,” ujar Haili Yoga.
“Beliau punya kepribadian melayani yang tulus. Seolah tugasnya itu adalah panggilan pribadi, bukan sekadar kewajiban jabatan.”
Menurut Bupati, apa yang dilakukan Taufiq bukan sekadar retorika. Ada program nyata seperti ‘Rabu Berkah’ dan ‘Jumat Berkah’ yang jadi bukti komitmennya mendekatkan diri ke warga. Kapolres ini kerap turun ke masjid, bagi-bagi sembako, dan mendengar langsung keluhan masyarakat.
“Dari sisi kinerja, sudah prima,” sambungnya.
Tapi yang paling berkesan bagi Haili justru saat bencana melanda. Daerah terpencil yang terisolasi susah ditembus, namun Taufiq dan anak buahnya nekat masuk. Mereka mengantar bantuan dengan motor trail, melalui jalur yang biasanya hanya ditempuh 2 jam jadi 14 jam perjalanan.
“Wah, itu luar biasa. Pagi berangkat, baru pulang keesokan paginya. Sangat agresif dan peduli terhadap korban. Masyarakat yang terdampak sangat terbantu,” kenang Haili.
Di sisi lain, sang Kapolres juga disebut punya pendekatan komunikatif. Koordinasi dengan perangkat daerah lain berjalan lancar, tanpa sekat birokrasi yang kaku. Bahkan untuk urusan penanganan kasus, Taufiq tak sungkan berembuk dengan tokoh adat jika masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
“Kami pernah berkomunikasi, ‘Pak, kalau ada masalah yang tidak terlalu berat, mungkin bisa lewat jalur adat saja’. Dan beliau langsung merespons baik,” cerita Haili.
Tanggapan Sang Kapolres
Dihubungi terpisah, AKBP M Taufiq justru merespons usulan nominasi award itu dengan santai. Baginya, yang utama bukan penghargaan.
“Yang penting saya kerja-kerja aja,” ucap Taufiq ringan. “Bisa berkawan dengan semua masyarakat, enak ngopi santai, itu sudah cukup.”
Dia lalu menjelaskan lebih detail soal program andalannya. Jumat Berkah adalah momen bagi sembako sekaligus mendengar aspirasi warga. Sementara Rabu Berkah lebih ke safari subuh, menyampaikan pesan kamtibmas. Keduanya adalah ikon selama dia memimpin, dan tak jarang dia mengeluarkan kocek pribadi untuk mendanainya.
“Intinya kan pemeliharaan kamtibmas. Kita mengedepankan yang preventif, humanis, dan dekat dengan masyarakat,” jelasnya.
Soal penegakan hukum, Taufiq mengakui adaptasi dengan kearifan lokal Aceh Tengah sangat penting. Masyarakat di sini masih kuat memegang adat. Karena itu, mediasi selalu jadi opsi pertama untuk kasus-kasus ringan, melibatkan tokoh agama dan adat.
“Kami berpendapat, membuat laporan polisi atau ke ranah hukum itu alternatif terakhir,” tegasnya.
“Tapi ya jelas, untuk kasus berat seperti narkoba atau kekerasan serius, pasti kita proses hukum. Tidak bisa ditolerir.”
Cerita tentang aksi tanggap bencananya dia anggap hal biasa. Bagi Taufiq, menembus daerah terisolasi itu semata-mata panggilan tugas. “Setidaknya dari kepolisian ada yang berbuat. Walaupun bawaannya cuma sembako, kehadiran itu yang penting,” imbuhnya.
Rupanya, bagi dia dan juga bagi warga yang merasakan langsung kepemimpinannya, kerja nyata berbicara lebih keras daripada segudang penghargaan.
Artikel Terkait
Pegadaian Luncurkan GadePreneur 2026, Bina 30 UMKM di Jakarta dan Banten
Polri Amankan 312 WNA di Jakarta Barat dalam Pengungkapan Jaringan Judi Online Internasional
Polisi Amankan 321 WNA dalam Penggerebekan Judi Online di Jakarta Barat
Polri Bongkar Judi Online dan Penipuan Internasional di Jakarta Barat, Amankan 321 Orang