Ternyata, rahasianya terletak pada kombinasi yang pas antara air, es, dan angin. Begini ceritanya.
Di musim dingin, hujan ringan kadang membentuk genangan air yang sangat dangkal di Racetrack Playa. Saat malam tiba, air itu membeku menjadi lapisan es tipis. Es ini lalu mencair di pagi hari, pecah menjadi lembaran-lembaran besar yang mengapung di atas air sisa.
Nah, di sinilah angin berperan. Angin yang bertiup pelan bahkan cuma secepat jalan kaki mendorong lembaran es itu. Lembaran es yang pecah ini kemudian menabrak batu-batu besar, mendorongnya perlahan-lahan di atas lumpur yang licin. Gerakannya lambat, nyaris tak kasat mata, tapi cukup kuat untuk menggeser batu seberat ratusan kilogram.
Jejak yang ditinggalkan pun punya karakternya sendiri. Batu dengan dasar kasar cenderung meluncur lurus. Sementara yang dasarnya halus, jalurnya acak, berbelok-belok tak menentu. Beberapa jejak ada yang panjangnya mencapai 1.500 kaki, membuktikan perjalanan mereka yang cukup jauh.
Jadi, misteri batu berjalan Death Valley akhirnya terjawab. Bukan sihir, bukan alien, tapi hasil dari tarian alam yang rumit dan sangat spesifik. Sebuah pertunjukan di gurun, yang hanya bisa disaksikan oleh mereka yang sabar menunggu.
Artikel Terkait
Iran Ancam Tutup Teluk Persia dengan Ranjau Laut Jika Diserang AS-Israel
Satpol PP Jaksel Kerahkan 160 Personel Amankan Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran
Jasa Marga Terapkan Satu Arah di Tol Trans Jawa untuk Antisipasi Puncak Arus Balik
Anggota MPR Desak Percepat RUU Pengelolaan Iklim Menyikapi Suhu Terik di Jakarta