Kalau kamu lagi jalan-jalan di Glodok, Jakarta Barat, siap-siap aja turun ke jalan. Bukan karena mau naik angkot, tapi trotoarnya nyaris mustahil buat dilewati. Penuh sesak sama lapak pedagang dan deretan motor yang parkir sembarangan. Kondisinya memang sudah begini bertahun-tahun, tapi belakangan makin jadi-jadian aja.
Acong, seorang warga berusia 56 tahun, cuma bisa geleng-geleng lihat keadaan sekarang. “Terus terang, sudah nggak nyaman sama sekali,” keluhnya. Menurut dia, trotoar yang semestinya jadi hak pejalan kaki, kini berubah jadi pasar dadakan dan tempat parkir gratis.
“Jadi orang jalan ya terpaksa turun ke badan jalan. Ribet banget.”
Acong bilang, dia sekarang cuma datang ke Glodok saat benar-benar perlu, misalnya pas mau belanja kebutuhan Imlek. Di hari-hari biasa, dia memilih menghindari kawasan itu. Alasannya sederhana: terlalu berisiko.
Apalagi saat ramai pengunjung. Situasinya jadi tambah ruwet dan berbahaya. Pejalan kaki dipaksa manuver di sela-sela mobil dan motor yang lalu lalang. “Kadang kita diklaksonin. Ya mau gimana lagi, jalannya kan udah dicaplok,” ujarnya dengan nada kesal.
Sebenarnya, upaya penertiban pernah dilakukan. Acong mengaku sempat melihat petugas Satpol PP turun tangan. Tapi efeknya cuma sesaat. “Iya, sempat ditertibkan. Tapi besoknya balik lagi. Memang perlu pengawasan rutin, nggak bisa cuma seremonial,” katanya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Perintahkan Penghematan Besar-besaran Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
Anak Diduga Stres Aniaya Ibu Kandung Hingga Tewas di Banyuwangi
Presiden Iran Siap Hentikan Perang dengan Syarat Jaminan Tak Ada Agresi Lagi
Pemkot Salatiga Galakkan Jumat Bebas Kendaraan untuk Hemat Energi