Di tengah panasnya Taman Nasional Death Valley, ada sebuah keajaiban yang bikin geleng-geleng kepala. Batu-batu di sana, konon, bisa berjalan sendiri. Ya, Anda tidak salah dengar. Di sebuah area bernama Racetrack Playa, bebatuan dengan berat ratusan pon itu berpindah tempat, meninggalkan jejak panjang di tanah gurun yang tandus.
Fenomena ini sudah jadi teka-teki sejak lama. Yang menarik, sepertinya tak ada satu pun orang yang pernah menyaksikan langsung batu-batu itu bergerak. Namun begitu, buktinya tak bisa dibantah: jejak-jejak di belakang mereka, plus perubahan posisi yang tercatat, jelas-jelas menunjukkan mereka memang tak diam di tempat.
Batu-batunya sendiri ukurannya beragam. Ada yang cuma sebesar kepalan tangan, ada juga yang seberat lemari es. Mereka berasal dari material pegunungan di sekitarnya, seperti dolomit dan syenit, yang tererosi dan jatuh ke dataran rendah di bawahnya. Nah, di situlah misterinya dimulai. Entah bagaimana caranya, dari titik jatuh itu, mereka mulai meluncur secara horizontal.
Misteri yang Akhirnya Terkuak
Selama puluhan tahun, berbagai teori bertebaran. Ada yang bilang karena angin kencang, medan magnet, atau bahkan lelucon para pengunjung. Tapi baru pada 2014, sekelompok ilmuwan berhasil memecahkan teka-teki ini. Mereka memasang kamera time-lapse dan… bingo! Mereka menangkap momen langka pergerakan itu.
Ternyata, rahasianya terletak pada kombinasi yang pas antara air, es, dan angin. Begini ceritanya.
Di musim dingin, hujan ringan kadang membentuk genangan air yang sangat dangkal di Racetrack Playa. Saat malam tiba, air itu membeku menjadi lapisan es tipis. Es ini lalu mencair di pagi hari, pecah menjadi lembaran-lembaran besar yang mengapung di atas air sisa.
Nah, di sinilah angin berperan. Angin yang bertiup pelan bahkan cuma secepat jalan kaki mendorong lembaran es itu. Lembaran es yang pecah ini kemudian menabrak batu-batu besar, mendorongnya perlahan-lahan di atas lumpur yang licin. Gerakannya lambat, nyaris tak kasat mata, tapi cukup kuat untuk menggeser batu seberat ratusan kilogram.
Jejak yang ditinggalkan pun punya karakternya sendiri. Batu dengan dasar kasar cenderung meluncur lurus. Sementara yang dasarnya halus, jalurnya acak, berbelok-belok tak menentu. Beberapa jejak ada yang panjangnya mencapai 1.500 kaki, membuktikan perjalanan mereka yang cukup jauh.
Jadi, misteri batu berjalan Death Valley akhirnya terjawab. Bukan sihir, bukan alien, tapi hasil dari tarian alam yang rumit dan sangat spesifik. Sebuah pertunjukan di gurun, yang hanya bisa disaksikan oleh mereka yang sabar menunggu.
Artikel Terkait
16 Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS di Muratara Berhasil Teridentifikasi
Empat Pemain Timnas Putri U-17 Indonesia Pukau Pelatih Prancis di Pusat Latihan Clairefontaine
Dua Truk Trailer Diamankan Polisi Usai Melawan Arah di Cakung Cilincing Demi Pangkas Waktu
Kasus Pemukulan Waketum PSI Ronald Sinaga di Menteng Berakhir Damai, Dinilai Murni Miskomunikasi