Dari Hambalang, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang tegas. Ekspor mineral kritis ke Amerika Serikat tak akan lagi mengalir dalam bentuk bahan mentah. Semua harus diolah dulu di dalam negeri. Pernyataan ini ia sampaikan pada Minggu di Maret 2026, tak lama setelah Indonesia dan AS menandatangani perjanjian kerja sama perdagangan untuk komoditas strategis itu bulan sebelumnya.
"Bahan mentah tetap kami wajibkan untuk diproses terlebih dahulu di tanah air," tegas Prabowo.
Intinya, akses pasar Amerika yang terbuka lebar itu harus selaras dengan kebijakan hilirisasi. Itu adalah strategi utama yang sudah lama dipegang pemerintah dalam mengelola kekayaan alam. Jadi, semua investasi yang masuk, dari mana pun asalnya, wajib patuh. Aturan nasional soal pengolahan mineral di dalam negeri sebelum ekspor adalah harga mati.
Namun begitu, Prabowo juga menegaskan bahwa semua transaksi harus mengikuti harga pasar yang kompetitif. Ia tak ingin kebijakan ini justru mengusik iklim bisnis.
Di balik sikap keras itu, tujuannya jelas: memastikan Indonesia mendapat nilai tambah yang maksimal. Mineral kritis, yang jadi tulang punggung industri energi hijau dan teknologi dunia, tak boleh lagi dijual mentah-mentah. Pemerintah tetap membuka pintu lebar untuk investor asing, termasuk dari AS, untuk turut membangun sektor ini. Syaratnya cuma satu: ikuti semua ketentuan dan regulasi yang berlaku di sini.
Artikel Terkait
Brigadir Polda Metro Jaya Meninggal Diduga Akibat Kelelahan Usai Tugas Mudik
Menhub Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik 24, 28, dan 29 Maret 2026
Prabowo Unggah Momen Keluarga Intim di Ulang Tahun Putra Semata Wayang
Empat Pelajar Nyaris Tewas Terseret Arus di Pantai Parangtritis, Polres Bantul Beri Imbauan Keras