Lebaran Ketupat 2026 Diperkirakan Jatuh pada 28 Maret

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:35 WIB
Lebaran Ketupat 2026 Diperkirakan Jatuh pada 28 Maret

Yang dibawa bukan cuma ketupat saja, lho. Ada juga pelengkapnya seperti sayur sambal goreng dan bubuk kedelai. Semuanya lalu ditata rapi, lalu didoakan bersama-sama. Ritual ini sarat makna, mencerminkan filosofi "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan di hadapan Allah SWT.

Asal-usul Tradisi

Sejarahnya nggak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo. Konon, dialah yang pertama kali mengenalkan ketupat ke masyarakat Jawa.

Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi punya penjelasan menarik. Katanya, tradisi kupatan muncul di era Wali Songo dengan memanfaatkan budaya slametan yang sudah ada. Tradisi lama itu kemudian diisi dengan nilai-nilai Islam, seperti cara bersyukur, bersedekah, dan mempererat silaturahmi di hari Lebaran.

Nama "ketupat" atau "kupat" sendiri berasal dari frasa Jawa "ngaku lepat". Artinya, mengakui kesalahan. Dengan saling memakan ketupat, diharapkan sesama muslim bisa saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.

Makna filosofisnya dalam. Janur kuning sebagai pembungkus, bagi orang Jawa, adalah simbol penolak bala. Lalu, bentuk segi empatnya melambangkan "kiblat papat lima pancer" bahwa ke mana pun arah manusia, akhirnya akan kembali kepada Allah.

Ada juga yang memaknai anyaman rumit pada bungkusnya sebagai gambaran beragamnya kesalahan manusia. Sementara daging ketupat yang putih bersih ketika dibelah, melambangkan hati yang suci setelah memohon ampun. Isi berasnya? Itu harapan akan kemakmuran yang mengiringi setelah hari raya.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar