Yang dibawa bukan cuma ketupat saja, lho. Ada juga pelengkapnya seperti sayur sambal goreng dan bubuk kedelai. Semuanya lalu ditata rapi, lalu didoakan bersama-sama. Ritual ini sarat makna, mencerminkan filosofi "ngaku lepat" atau mengakui kesalahan di hadapan Allah SWT.
Asal-usul Tradisi
Sejarahnya nggak lepas dari peran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo. Konon, dialah yang pertama kali mengenalkan ketupat ke masyarakat Jawa.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi punya penjelasan menarik. Katanya, tradisi kupatan muncul di era Wali Songo dengan memanfaatkan budaya slametan yang sudah ada. Tradisi lama itu kemudian diisi dengan nilai-nilai Islam, seperti cara bersyukur, bersedekah, dan mempererat silaturahmi di hari Lebaran.
Nama "ketupat" atau "kupat" sendiri berasal dari frasa Jawa "ngaku lepat". Artinya, mengakui kesalahan. Dengan saling memakan ketupat, diharapkan sesama muslim bisa saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.
Makna filosofisnya dalam. Janur kuning sebagai pembungkus, bagi orang Jawa, adalah simbol penolak bala. Lalu, bentuk segi empatnya melambangkan "kiblat papat lima pancer" bahwa ke mana pun arah manusia, akhirnya akan kembali kepada Allah.
Ada juga yang memaknai anyaman rumit pada bungkusnya sebagai gambaran beragamnya kesalahan manusia. Sementara daging ketupat yang putih bersih ketika dibelah, melambangkan hati yang suci setelah memohon ampun. Isi berasnya? Itu harapan akan kemakmuran yang mengiringi setelah hari raya.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Suami Istri Pengedar Tramadol Ilegal di Cileungsi
Korlantas: Arus Mudik Lebaran 2026 Terkendali, Fokus Beralih ke Antisipasi Balik
SBY dan Jokowi Sambangi Istana untuk Halalbihalal dengan Prabowo
Hujan Deras dan Banjir Rendam Permukiman di Setu Pedongkelan, Depok