Ada juga hadis lain dari Abu Hurairah.
Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan tentang keutamaan menyambung tali kekerabatan ini.
Nah, di sinilah menariknya. Meski secara harfiah Arab, 'silaturahim' mungkin lebih tepat, tapi kata 'silaturahmi' sudah nyantol banget di lidah kita. Majelis Tarjih Muhammadiyah punya pandangan menarik soal ini.
Intinya, begitu sebuah kata sudah diserap dan dipakai luas dalam bahasa Indonesia, ya nggak masalah kita pakai versi yang udah membumi itu. Maknanya pun mengikuti konteks Indonesia, bukan lagi ditafsirkan secara kaku dari bahasa asalnya. Kata itu sudah bertransformasi.
Jadi, silakan saja. Mau bilang silaturahmi atau silaturahim, yang penting esensinya sama: kita tetap menyambung tali kekerabatan, terutama di momen penuh berkah seperti sekarang ini.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Gelar Halalbihalal di Istana, Dihadiri Pejabat Negara dan Keluarga SBY
Pedagang Bakso di Jakarta Selatan Pilih Berjualan Saat Lebaran, Baru Mudik Usai Liburan
Cristiano Ronaldo Ucapkan Selamat Idul Fitri, Disambut Hangat Warganet
Presiden Prabowo dan Menteri PU Tinjau Huntara Korban Banjir Usai Salat Id di Aceh Tamiang