Lebaran selalu identik dengan tradisi berkunjung. Ya, kita ramai-ramai mendatangi rumah sanak keluarga, kerabat, bahkan tetangga untuk saling bermaafan dan mengeratkan lagi ikatan persaudaraan. Nah, di tengah kemeriahan itu, kerap muncul pertanyaan kecil: mana sih yang bener, 'silaturahmi' atau 'silaturahim'?
Kalau buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, jawabannya jelas: silaturahmi. Di KBBI, kata itu diartikan sebagai tali persahabatan atau persaudaraan. Jadi, secara aturan bahasa Indonesia, itulah bentuk yang disahkan.
Dari Mana Asal Katanya?
Tapi ceritanya nggak berhenti di situ. Asal-usul kata ini, kalau dirunut, ternyata dari bahasa Arab. Menurut sejumlah ulasan, kata ini terbentuk dari dua bagian: 'shilat' dan 'al-rahim' atau 'al-rahmi'.
'Shilat' itu artinya menyambung atau menghubungkan. Sementara 'al-rahim' atau 'al-rahmi' punya akar kata yang sama, 'rahima'. Nah, dari sini bisa muncul dua makna berbeda: kasih sayang, atau rasa sakit di rahim usai melahirkan. Lumayan kompleks juga ya.
Kalau lihat dari banyak hadis, Rasulullah SAW lebih sering menggunakan kata "rahim". Misalnya, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik.
"Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: 'Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya atau ditambahkan umurnya maka hendaklah ia menyambung kekerabatannya'." [HR. al-Bukhari dan Muslim].
Ada juga hadis lain dari Abu Hurairah.
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: 'Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung kekerabatannya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaklah ia diam'." [HR. al-Bukhari].
Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan tentang keutamaan menyambung tali kekerabatan ini.
"Diriwayatkan dari Anas, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: 'Sesungguhnya rahim (kekerabatan) itu adalah cabang kuat di 'Arsy berdoa dengan lisan yang tajam: 'Ya Allah sambunglah orang yang menyambungku dan putuslah orang yang memutusku'. Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Aku adalah ar-Rahman ar-Rahim. Sungguh Aku pecahkan dari namaKu untuk rahim (kekerabatan), maka barangsiapa menyambungnya niscaya Aku menyambung orang itu, dan barangsiapa memutuskannya pasti Aku memutuskan orang itu'." [Diriwayatkan oleh al-Haitsami].
Nah, di sinilah menariknya. Meski secara harfiah Arab, 'silaturahim' mungkin lebih tepat, tapi kata 'silaturahmi' sudah nyantol banget di lidah kita. Majelis Tarjih Muhammadiyah punya pandangan menarik soal ini.
Intinya, begitu sebuah kata sudah diserap dan dipakai luas dalam bahasa Indonesia, ya nggak masalah kita pakai versi yang udah membumi itu. Maknanya pun mengikuti konteks Indonesia, bukan lagi ditafsirkan secara kaku dari bahasa asalnya. Kata itu sudah bertransformasi.
Jadi, silakan saja. Mau bilang silaturahmi atau silaturahim, yang penting esensinya sama: kita tetap menyambung tali kekerabatan, terutama di momen penuh berkah seperti sekarang ini.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Surabaya, Rabu 6 Mei 2026: Subuh Pukul 04.14 WIB, Magrib 17.24 WIB
Korlantas Pilih Jalur Dialog dan Pelatihan, Bukan Sekadar Tilang, untuk Tekan Kecelakaan Angkutan Umum
Indonesia dan Jepang Sama-Sama Raih Kemenangan di Laga Perdana Grup B Piala Asia U17
Dudung Bantah Punya Masalah Pribadi dengan Habib Rizieq dan Menolak Tudingan di Balik Pidato Prabowo