Tradisi Salam Tempel Lebaran: Dari Sejarah Hingga Kisaran Nominal yang Biasa Diberikan

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:30 WIB
Tradisi Salam Tempel Lebaran: Dari Sejarah Hingga Kisaran Nominal yang Biasa Diberikan

Jakarta Lebaran. Kata itu saja sudah bikin senyum. Momen yang ditunggu-tunggu itu bukan cuma soal ketupat dan opor ayam, tapi juga tentang kumpul keluarga, saling memaafkan, dan... salam tempel. Ya, tradisi bagi-bagi amplop berisi uang ini seolah jadi bumbu penyedap yang bikin suasana Idulfitri makin semarak. Terutama buat anak-anak, tentu saja.

Ngomong-ngomong soal tradisi, ternyata kebiasaan bagi-bagi uang saat Lebaran ini usianya sudah sangat tua. Menurut catatan sejarah, praktik serupa sudah berlangsung sejak awal abad pertengahan, lho. Kala itu, kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara punya kebiasaan membagikan uang, pakaian, sampai permen ke masyarakat di hari pertama Idulfitri.

Lalu, sekitar lima abad kemudian di akhir era Ottoman, tradisi ini muncul lagi. Dari sanalah kemudian kebiasaan itu menyebar dan akhirnya mendarah daging di banyak negara, termasuk Indonesia. Bedanya, di sini salam tempel punya ciri khas: uangnya harus baru dan mulus. Kalau lecek, rasanya kurang afdal.

Mengapa Uang Baru Lebih Disukai?

Ini fenomena yang menarik. Sejak dulu, anak-anak memang lebih suka terima uang baru ketimbang yang sudah lusuh. Makanya, nggak heran kalau jelang Lebaran, antrean di bank untuk penukaran uang bisa panjang berjubel. Uang yang masih kertasnya kencang dan berbau khas itu dianggap lebih layak untuk dijadikan hadiah, lebih terasa spesial. Sampai sekarang pun kebiasaan ini masih kuat.

Lalu, Berapa Sih Nominal yang Pas?

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar