Dharma Boutique Roastery Semarang, Warisan Pabrik Kopi Sejak 1915 yang Tetap Setia pada Rasa Nusantara

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 06:45 WIB
Dharma Boutique Roastery Semarang, Warisan Pabrik Kopi Sejak 1915 yang Tetap Setia pada Rasa Nusantara

“Kami masih pakai cara manual. Hasilnya tidak kalah, tapi sekarang lebih berbasis ilmu,” ucap Dharma.

Soal harga, prinsipnya jelas. “Kami tidak menjual murah, tapi juga tidak menaikkan harga semaunya. Harga sesuai kualitas,” katanya.

Datang ke tempat ini seperti melangkah ke masa lalu yang masih hidup. Suasana halaman terbuka dengan paving dikelilingi tanaman rindang menciptakan keteduhan. Bangunannya mempertahankan arsitektur lama: jendela klasik, atap genteng. Pengunjung bisa duduk di meja kayu sederhana, menikmati ketenangan yang jarang ditemui di kafe modern yang ramai.

Sekitar 50 jenis biji kopi tersusun rapi. Uniknya, sebelum membeli, pengunjung boleh mencium aroma biji kopi langsung untuk mengenali karakternya. Para barista juga dengan sigap menjelaskan asal-usul, proses, hingga cita rasa setiap varian. Jadi, membeli kopi di sini bukan sekadar transaksi, tapi juga pengalaman belajar.

“Kami hanya mengenalkan. Soal tertarik atau tidak, itu kembali ke masing-masing,” kata Dharma soal pendekatan edukatif ini.

Edukasi, baginya, adalah kunci. Baik untuk pekerja maupun pelanggan.

“Awalnya tidak tahu, tapi belajar dari pengalaman. Sekarang mereka (barista) malah lebih pintar dari saya,” akunya sambil tertawa.

Dharma juga mengamati bahwa minat masyarakat pada kopi melonjak berkat budaya pop, seperti film “Filosofi Kopi”. Setiap hari, ia dan tim melakukan uji rasa dan "blending" untuk menjaga konsistensi kualitas.

“Kami selalu mencoba kopi yang kami jual dan melakukan "blending",” ujarnya.

Baginya, kopi adalah seni yang tak pernah selesai. “Kopi itu seni yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang paling enak karena setiap orang punya selera sendiri,” tutur Dharma.

Skala produksinya masih kecil, belum sampai satu kuintal per hari. Pernah ada ekspor, tapi terhenti akibat krisis ekonomi global dan gejolak perang.

“Kami masih kecil,” ujarnya merendah.

Tapi dari bangunan tua di Wotgandul Barat itu, warisan rasa sejak 1915 terus mengalir. Pelan, tapi penuh makna.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar