Gedung Putih tampaknya sedang mengasah kukunya. Lewat sebuah pernyataan tertulis, mereka menyebut militer Amerika Serikat punya kemampuan untuk menguasai Pulau Kharg milik Iran. Kapan saja. Syaratnya cuma satu: perintah dari Presiden Donald Trump.
"Militer Amerika Serikat dapat menguasai Pulau Kharg kapan saja jika Presiden memberi perintah," tulis Anna Kelly, Wakil Sekretaris Pers Utama Gedung Putih, seperti dikutip dari AFP, Sabtu lalu.
Kelly menambahkan, berkat persiapan yang sudah matang, seluruh jajaran pemerintahan siap menghadapi segala kemungkinan tindakan dari apa yang mereka sebut "rezim teroris Iran."
Laporan dari media AS, Axios, mengungkap bahwa Trump sendiri sedang mempertimbangkan rencana itu. Ide dasarnya adalah menduduki atau setidaknya memblokade pulau strategis tersebut. Tujuannya jelas: memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi lalu lintas minyak global.
"Kita butuh sekitar satu bulan untuk lebih melemahkan Iran dengan serangan, merebut pulau itu, dan kemudian mengendalikan mereka dan menggunakannya untuk negosiasi," ujar seorang sumber yang dilaporkan Axios.
Memang, pulau kecil di Teluk Persia ini bukan sembarang tempat. Sekitar 90% ekspor minyak Iran bermuara di sini. Serangan udara AS dan Israel sebelumnya sudah menyasar instalasi militer di sana. Tapi invasi darat? Itu cerita lain yang jauh lebih berisiko. Langkah itu akan menempatkan pasukan AS dalam posisi yang sangat rentan, berada dalam jangkauan serangan langsung Iran.
Di sisi lain, militer AS dikabarkan sudah menyetujui penambahan pasukan di kawasan itu. Seorang pejabat tinggi pemerintahan Trump memberi penjelasan blak-blakan soal rencana pembukaan Selat Hormuz.
"Jika [Trump] memutuskan untuk melakukan invasi pantai, itu akan terjadi. Tetapi keputusan itu belum dibuat," katanya.
Trump sendiri sebelumnya sudah melontarkan ancaman terbuka. Lewat unggahan di media sosial, ia menyombongkan serangan bom yang ia klaim sebagai salah yang paling dahsyat di Timur Tengah, yang menghancurkan target militer di Pulau Kharg yang ia sebut "permata mahkota" Iran. Ia juga tak segan mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pulau itu lebih lanjut.
Semua pernyataan ini menggambarkan ketegangan yang makin memanas. Di satu sisi, ada kepercayaan diri yang terkesan menggertak. Di sisi lain, ada risiko perang terbuka yang konsekuensinya tak terbayangkan.
Artikel Terkait
Penertiban Pedagang Tanaman Hias di Danau Bisma Jakarta Utara, Pemerintah Fasilitasi Relokasi ke Kemayoran
Prabowo Dijadwalkan Hadiri KTT ke-48 ASEAN di Filipina pada 7-8 Mei
Persib Kunci Kemenangan Tipis atas PSIM Jelang Laga Panas Lawan Persija
Pemkot Jakbar Bangun Saluran 1.050 Meter ke Kali Angke untuk Atasi Banjir Kolong JORR Puri