Pertemuan di Jakarta, Senin (16/3/2026), berlangsung dengan agenda yang jelas: membahas masa depan program kesehatan terbesar di negeri ini. Prihati Pujowaskito, sang Dirut BPJS Kesehatan, duduk bersama jajaran direksinya berhadapan dengan tim dari Kementerian PPN/Bappenas. Inti pembicaraannya satu: bagaimana sinergi antarlembaga ini bisa menjaga Program JKN agar tetap langgeng.
“Fokus kita ke depan bukan cuma perluasan,” tegas Pujo. Saat ini, JKN sudah menyentuh lebih dari 284 juta jiwa hampir seluruh penduduk Indonesia. Angka yang fantastis, tentu saja. Tapi menurutnya, capaian itu baru fondasi. Tantangan sesungguhnya justru ada pada peningkatan kualitas layanan, pembiayaan yang berkelanjutan, dan tata kelola yang solid.
“Tapi upaya ini cuma akan kuat kalau dibangun di atas kolaborasi yang erat,” sambungnya. Harmonisasi kebijakan lintas sektor dari fiskal, kesehatan, hingga perlindungan sosial menjadi kata kunci. Tanpa itu, program sebesar JKN bisa goyah. Ia meyakini, hanya dengan keselarasan arah pembangunan nasional, manfaat nyata bagi masyarakat bisa benar-benar terasa.
Di sisi lain, transformasi internal juga terus digenjot. Pujo menyebut integrasi data, kebijakan berbasis bukti, dan digitalisasi proses bisnis sebagai langkah konkret. Tujuannya jelas: akurasi kebijakan lebih baik, pembiayaan lebih efisien, dan mutu layanan naik.
“Ini bukan cuma soal menjaga program tetap jalan,” jelasnya di hadapan para peserta rapat, termasuk Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Stevanus Adrianto Passat.
“Lebih dari itu, ini tentang memastikan harapan masyarakat terhadap kehadiran negara tetap terjaga. Kolaborasi yang berkelanjutan akan membuat JKN tetap jadi pilar ketahanan sosial kita.”
Artikel Terkait
KPK Dalami Rencana Bupati Cilacap Bagikan THR Rp610 Juta ke Forkopimda
Argentina Gantikan Finalissima dengan Uji Coba Melawan Guatemala di Tanah Air
Uni Eropa Tegas Tolak Permintaan Trump Kirim Pasukan ke Selat Hormuz
Menteri Perhubungan Prediksi Puncak Mudik di Pelabuhan Merak Malam Ini