Kekurangan itu terpaksa mereka tutup dari kocek sendiri. "Mau nggak mau, Pak, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," kata Mufid, menjelaskan alasan mereka kerap nombok.
Mereka tak ingin menu yang disajikan untuk siswa terlihat jauh dari pantas, meski harus mengorbankan uang pribadi.
Merespons pengaduan itu, BGN akhirnya mengambil tindakan tegas. Dua SPPG di Ponorogo itu dihentikan sementara operasinya. Keputusan ini diambil setelah Ketua Harian Tim Koordinasi terkait program MBG melakukan konfirmasi langsung ke menteri yang disebut-sebut.
Hasil konfirmasi itu mengejutkan. Sang menteri membantah memiliki cucu yang mengklaim kepemilikan dapur tersebut.
Bahkan, menteri itu menyetujui penutupan operasi dapur yang dikelola oleh orang yang mengaku sebagai cucunya itu. Langkah ini sekaligus mengakhiri polemik yang sempat membuat dua kepala SPPG itu hidup dalam kecemasan.
Artikel Terkait
Siswa SRMA 1 Aceh Besar Bagikan Takjil dan Pererat Silaturahmi di Ramadan
Adira Finance Salurkan Rp8 Triliun Pembiayaan Baru hingga Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Jakarta dan Kepulauan Seribu 17 Maret 2026
PAM JAYA Dukung Mudik Gratis DKI, 15 Bus Antar Ribuan Warga ke Kampung Halaman