Dari Ponorogo, mereka datang jauh-jauh ke Blitar dengan satu permintaan: perlindungan. Dua kepala Sekolah Pangan dan Pangan Gotong Royong (SPPG) itu melaporkan intimidasi yang mereka alami dari yayasan pengelola, yang mengaku dimiliki oleh seorang cucu menteri.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, membenarkan pertemuan tersebut. "Mereka menemui saya karena merasa terancam," ujarnya kepada wartawan, Senin lalu.
Rizal Zulfikar Fikri dari SPPG Ponorogo Kauman Somoroto dan Moch. Syafi'i Misbachul Mufid dari SPPG Ponorogo Jambon Krebet, itulah nama kedua pria itu. Selama berbulan-bulan mengelola dapur di bawah Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara, mereka mengaku terus-menerus ditekan.
Menurut cerita yang mereka sampaikan pada Nanik, tekanan itu datang dari pengawas yayasan. Mereka sering diancam akan dilaporkan ke polisi atau dihadiahi surat kuasa pengacara jika tak menuruti kemauan pengelola. Intimidasi itu berlangsung terus-menerus, membuat suasana kerja jadi mencekam.
Masalahnya ternyata tak cuma soal ancaman. Ada dugaan kuat rekayasa dalam pengelolaan anggaran. BGN menetapkan dana Rp 10 ribu per porsi untuk pembelian bahan pangan. Namun, di lapangan, anggaran itu dipotong hingga hanya Rp 6.500 per porsi.
Artikel Terkait
Siswa SRMA 1 Aceh Besar Bagikan Takjil dan Pererat Silaturahmi di Ramadan
Adira Finance Salurkan Rp8 Triliun Pembiayaan Baru hingga Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Jakarta dan Kepulauan Seribu 17 Maret 2026
PAM JAYA Dukung Mudik Gratis DKI, 15 Bus Antar Ribuan Warga ke Kampung Halaman