Dia pun bergerak. Setelah berembuk dengan warga, dibangunlah kelas sederhana di atas lahan pribadi dan lahan teman yang dihibahkan. "Kita buatkan dari papan kita bangunkan 3 lokal. Dua untuk lokal anak belajar, 1 lokal itu gurunya."
Sekarang bangunannya sudah permanen, dikelola mandiri oleh warga dengan dana BOS. Tapi dulu, meyakinkan orang tua murid bukan hal mudah. "Mirip-mirip film Laskar Pelangi saya pada saat itu," akunya. "Saya yakinkan seperti itu."
Dana awalnya? Dari kantongnya sendiri. Sekitar Rp 15 juta untuk kayu dan material, ditambah gotong royong warga. Lokasinya pun terpencil, jalannya tanah, sulit dilalui saat hujan. Tapi jerih payahnya terbayar. Pada 2017, dia dapat SATU Indonesia Award tingkat provinsi untuk bidang pendidikan.
Pesantren, Voli, dan Bank Pohon
Pindah tugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Sungai Langsat pada 2015 justru memperluas karya Mariono. Di atas lahan 1,1 hektare, dia membangun sebuah kompleks kecil untuk masyarakat.
"Jadi paling depan untuk usaha pribadi, usaha sembako. Lalu ada sebagian sekitar 10 sampai 15 rumah warga, saya hibahkan sama masyarakat," jelasnya. "Ada pondok pesantren itu, ada fasilitas olahraga saya bikin, bola voli."
Pondok pesantren tahfiznya sudah punya izin dari Kemenkumham sejak 2021. Saat ini baru berfungsi sebagai TPQ dengan 65 santri. "Belajar setelah salat asar... yang penting dia menyenangi dengan Al-Qur'an," ujarnya. Untuk operasional, dia memberi insentif ke guru utama dan pendamping, sementara wali santri menyepakati iuran sukarela Rp 1 ribu per hari.
Motivasinya datang dari pengalaman masa kecilnya sendiri di daerah transmigrasi. "Jadi memori waktu kecil itu mempengaruhi kita... saya kepengin anak-anak itu jangan sampai kayak kita."
Selain ilmu agama, dia juga ingin anak-anak sehat dan terhindar dari kenakalan remaja. Maka didirikanlah akademi voli. Sekitar 30 anak latihan gratis dengan pelatih berlisensi. Lapangannya ada di dekat pesantren, lengkap dengan lampu untuk malam hari. Timnya kerap ikut kejuaraan dan beberapa kali bawa pulang piala.
Semua pembangunan ini tentu butuh biaya tak sedikit. Mariono mengakui sudah keluar mungkin sekitar Rp 100 juta, dibiayai dari hasil kebun dan usaha sembakonya. "Ada rezeki, ada kebun sedikit... kalau kita nggak ada perkebunan nanti operasionalnya terganggu."
Di sela-sela itu, program bank pohonnya terus berjalan. Lahan di sekitar pesantren ditanami buah-buahan dan pohon kehutanan. "Kita tujuan dari 2021 itu saya sampaikan dilarang tanaman di luar tanaman pohon," tegasnya.
Komitmen pada penghijauan inilah yang membawanya mendapat apresiasi langsung dari Kapolda Riau. "Alhamdulillah tahun 2025 kemarin itu... kita dapat hadiah umrah dari Pak Kapolda."
Sebuah penghargaan yang pantas, untuk seorang polisi yang memilih mengabdi dengan cara yang berbeda: bukan dengan pentungan atau peluru, melainkan dengan papan tulis, Al-Qur'an, bibit pohon, dan bola voli.
Artikel Terkait
BPJS Kesehatan Soroti Peran Krusial Pemerintah Daerah dalam Keberlanjutan JKN
Istri Tuntut Nafkah Anak Rp30 Juta per Bulan dalam Sidang Perceraian Insanul Fahmi
Wakapolri Tinjau Arus Mudik, Bakauheni Ramai Tapi Tidak Macet Total
Hariyanto Dicalonkan Jadi Ketum PERADI, Dapat Dukungan Dahlan Iskan