Pertemuan bank sentral Amerika Serikat itu dijadwalkan pekan depan, dan hasilnya bakal menentukan arah kebijakan suku bunga. Spekulasi sudah mulai berembus.
Ibrahim menjelaskan, lonjakan harga minyak mentah global yang sudah tembus US$100 per barel berisiko mendongkrak inflasi. Kalau sudah begini, The Fed punya alasan untuk bertahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan. Imbasnya ke arus modal global bisa signifikan.
Persoalan minyak ini juga bikin pusing di dalam negeri. Harga yang tinggi, terlebih jika bertahan di atas US$92 per barel, berpotensi membebani anggaran pemerintah dan memperlebar defisit fiskal.
“Beberapa pengamat menilai defisit anggaran harus tetap dijaga di kisaran 3 persen, salah satunya dengan melakukan efisiensi belanja,” ujar Ibrahim.
Ia mengingatkan, tekanan fiskal dan persepsi risiko semacam ini bisa memengaruhi penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap utang Indonesia. Ujung-ujungnya, nilai tukar rupiah yang bisa jadi korban.
Jadi, meski pagi ini cerah, awan mendung masih menggelayut di atas kepala rupiah. Perdagangan hari ini dipastikan akan menarik untuk disimak.
Artikel Terkait
Ribuan Pemudik Berangkat Gratis dari Depok, Puncak Arus Diprediksi Besok
Tito Karnavian Desak Daerah Percepat Pendataan untuk Hunian Tetap Korban Bencana
BMKG Peringatkan Potensi Hujan di Banyumas, Pemudik Diminta Waspada
Taliban Klaim 400 Tewas dalam Serangan Udara Pakistan di Kabul, Islamabad Bantah