Di sisi lain, klaim Trump itu bertolak belakang dengan laporan sejumlah media internasional. Mereka telah mempublikasikan foto-foto aksi dukungan publik itu, yang digelar usai penunjukan Mojtaba Khamenei. Aksi itu, oleh banyak pihak, dilihat sebagai bentuk solidaritas warga Iran di tengah konflik yang memanas.
Konflik sendiri sudah memuncak sejak akhir Februari lalu. Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Tehran. Serangan itu merenggut nyawa pemimpin Revolusi Islam sebelumnya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, plus beberapa pejabat militer senior Iran.
Balasannya tidak lama. Iran membalas dengan meluncurkan hujan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan. Situasi pun kian tegang.
Pejabat Iran bersikukuh bahwa serangan balasan mereka adalah wajar. Mereka menyebutnya sebagai bentuk "pembelaan diri yang sah." Argumen hukumnya mengacu pada Pasal 51 Piagam PBB, yang memberikan hak bagi suatu negara untuk mempertahankan diri dari agresi. Bagi Iran, tindakan AS dan Israel itulah yang memulai segalanya.
Jadi, di tengah perang sesungguhnya yang melibatkan rudal dan drone, perang narasi juga berkecamuk. Satu pihak menuduh penggunaan AI untuk membangun opini, sementara pihak lain membantah dan menunjukkan bukti visual. Yang jelas, ketegangan di Teluk Persia belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Artikel Terkait
Forum Energi Indo-Pasifik di Tokyo Sepakati Komitmen Stabilkan Pasokan di Tengah Ketegangan Global
Golkar Siapkan 20 Bus Mudik Gratis untuk Tiga Provinsi
Polisi Periksa Baju Meleleh dan Helm Pelaku dalam Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Arus Mudik Mulai Padat di Tol Cipali, Volume Kendaraan Naik 9,2 Persen