Dari dalam Air Force One yang melintasi langit, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan tuduhan mengejutkan. Kali ini, sasarannya adalah Iran. Menurut Trump, negara itu diduga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menciptakan narasi palsu soal kemenangan militernya di medan perang.
Namun begitu, klaim itu dilontarkan tanpa disertai bukti konkret sama sekali. Trump berbicara kepada awak media pada Minggu, 15 Maret 2026.
“AI bisa sangat berbahaya, kita harus sangat berhati-hati dengannya,”
kata Trump, seperti dikutip dari laporan PressTV sehari kemudian. Peringatannya tentang penyalahgunaan teknologi terasa keras, meski tuduhan utamanya tetap menggantung.
Sebelumnya, lewat unggahan di Truth Social, mantan presiden itu sudah lebih dulu menyerang. Ia menuduh sejumlah media Barat berkolaborasi dengan Tehran menyebarkan "berita palsu" yang diklaimnya dibuat dengan AI. Salah satu targetnya adalah gambar yang viral, menunjukkan sekitar 250.000 orang memadati jalanan Teheran untuk mendukung pemimpin baru Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei.
Menurut Trump, kerumunan massa itu ilusi belaka hasil rekayasa algoritma. Acaranya, katanya, tak pernah benar-benar terjadi.
Artikel Terkait
Forum Energi Indo-Pasifik di Tokyo Sepakati Komitmen Stabilkan Pasokan di Tengah Ketegangan Global
Golkar Siapkan 20 Bus Mudik Gratis untuk Tiga Provinsi
Polisi Periksa Baju Meleleh dan Helm Pelaku dalam Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Arus Mudik Mulai Padat di Tol Cipali, Volume Kendaraan Naik 9,2 Persen