Ia tak cuma berduka. Markus juga menyoroti keamanan yang terus terancam. Menurutnya, insiden kekerasan terhadap warga sipil di wilayah itu bukanlah yang pertama. Baru pekan lalu, seorang pegawai honorer asli Papua juga meninggal dalam kejadian serupa. Ia berharap pemerintah dan aparat bisa segera bertindak, menjamin rasa aman bagi masyarakat dan tenaga sipil yang bekerja di daerah terpencil.
Di sisi lain, respons aparat pun bergerak cepat. Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol Gatot Haribowo, langsung berangkat ke Kota Fef di Kabupaten Tambrauw pada Senin siang. Ia didampingi Dansat Brimob dan sejumlah pejabat utama. Tujuannya jelas: memimpin langsung penegakan hukum dan memastikan situasi keamanan pasca-serangan mengerikan ini bisa dikendalikan.
Dari pantauan di lapangan, pelaku diduga merupakan kelompok KKB yang memang berkeliaran di wilayah Distrik Bamusbama. Hingga saat ini, tim gabungan TNI dan Polri masih melakukan penyisiran di lokasi kejadian. Pengejaran terhadap kelompok tersebut terus digencarkan. Aparat juga berusaha menjaga ketat jalur transportasi menuju Tambrauw, berupaya mencegah hal serupa terulang.
Setelah menjalani visum, jenazah Yermia Lobo rencananya akan dibawa ke rumah duka di Sorong untuk dimakamkan. Namun, di balik prosesi duka itu, ada kegelisahan yang lebih besar. Situasi keamanan di Tambrauw kini jadi sorotan tajam.
Peristiwa ini, sekali lagi, membuka mata kita semua. Betapa tingginya risiko yang harus ditanggung oleh tenaga sipil, para pelayan masyarakat, yang bekerja di daerah rawan konflik. Duka yang mendalam kini bukan cuma milik keluarga. Tapi juga meninggalkan tanda tanya besar: kapan keamanan di bumi Papua benar-benar bisa dirasakan oleh semua warganya?
Artikel Terkait
Plafon Pasar Sehat Soreang Ambruk, Satu Tewas dan Tiga Luka-luka
Israel Siapkan Rencana Militer Tiga Minggu, Harga Minyak Melonjak Akibat Macetnya Selat Hormuz
Filipina Evakuasi Ratusan Pekerja dari Timur Tengah Imbas Eskalasi Konflik
Rupiah Mengawali Pagi dengan Penguatan, Analis Waspadai Tekanan di Sisa Hari