Perang besar tak pernah lahir dari satu sebab saja. Ia selalu jadi persilangan rumit: tarik-ulur kepentingan geopolitik, desakan kebutuhan energi, plus kalkulasi politik domestik yang berdenyut di dalam negeri masing-masing negara. Konflik antara Iran di satu sisi dengan Israel dan Amerika Serikat di sisi lain, misalnya, harus dilihat dengan kacamata yang lebih lebar. Ini bukan cuma soal baku tembak di Timur Tengah.
Ambil contoh Israel. Situasi politik dalam negerinya lagi panas. Pemilu legislatif paling lambat digelar Oktober 2026 nanti, dan polarisasi masyarakat terasa begitu tajam. Di tengah kondisi itu, posisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebenarnya tak terlalu kokoh. Survei belakangan menunjukkan lebih dari separuh warga Israel sekitar 52 persen menolak pencalonannya kembali. Tekanannya datang dari mana-mana: kritik terhadap kebijakan keamanan, kasus hukum yang masih membayangi, sampai perpecahan politik yang kian menganga.
Netanyahu memang dikenal sebagai politisi paling ulet dan sulit ditaklukkan. Namun begitu, sejarah kerap mencatat, saat tekanan domestik memuncak, konflik dengan pihak luar bisa jadi alat politik yang ampuh. Perang punya cara unik untuk mempersempit ruang kritik dan mengeraskan solidaritas nasional.
Fenomena serupa, meski tak persis sama, juga terlihat di seberang samudera. Pemerintahan Donald Trump di AS akan menghadapi pemilu paruh waktu pada 2026 pemilu yang sangat krusial karena akan menentukan peta kekuatan di Kongres, menyongsong Pilpres 2028. Polanya sudah sering terulang: presiden yang terdesak di dalam negeri cenderung mengambil sikap lebih garang di luar. Tujuannya jelas, membangun citra pemimpin yang kuat dan tak gentar.
Trump sendiri sedang tak bebas dari badai. Dokumen-dokumen terkait jaringan skandal Jeffrey Epstein, misalnya, terus jadi bahan perdebatan yang memanas. Dalam situasi seperti ini, kebijakan luar negeri yang keras kerap dipakai untuk mengalihkan perhatian dan mengokohkan legitimasi.
Namun, konflik dengan Iran punya dimensi lain yang jauh lebih vital: energi. Negeri ini berdiri di kawasan yang mengontrol Selat Hormuz, jalur laut paling strategis di dunia. Sekitar seperlima minyak global harus melewati selat sempit ini. Gangguan kecil saja bisa bikin harga energi melonjak liar. Makanya, konflik ini mustahil dipandang sekadar urusan regional. Ini soal siapa yang pegang kendali atas stabilitas pasokan energi dunia.
Tapi di balik semua kalkulasi geopolitik yang dingin itu, ada faktor lain yang sering terlewat: harga diri bangsa. Untuk memahami Iran, kita harus mundur ke 1953. Saat itu, pemerintahan nasionalis Mohammad Mossadegh digulingkan lewat operasi rahasia CIA dan intelijen Inggris, setelah ia berani menasionalisasi industri minyak mereka. Luka itu tertanam sangat dalam dalam ingatan kolektif rakyat Iran.
Karakter Khas Iran
Sejak Revolusi 1979, Iran membangun sistem yang secara terang-terangan menolak dominasi asing. Bagi banyak warga sana, kedaulatan nasional bukan cuma slogan itu pengalaman sejarah yang nyata dan pahit. Lihat saja negara lain: Libya porak-poranda setelah Gaddafi jatuh, Irak terpecah dan tak stabil pasca-invasi 2003.
Iran menunjukkan dinamika berbeda. Negaranya punya struktur yang relatif solid dan kemampuan mobilisasi massa yang besar. Ancaman dari luar justru sering memicu solidaritas nasional, mengubur sementara konflik internal. Ini tentu bukan berarti rakyat Iran seragam mendukung pemerintahnya. Banyak yang kritis, terutama soal ekonomi dan kebebasan. Tapi dalam politik internasional, tekanan eksternal kerap malah menyatukan mereka.
Artikel Terkait
FORMAS Buka Kantor di Beijing untuk Perkuat Jembatan Investasi Indonesia-China
Kapolsek Cileungsi Sikat Otak Perampok Lansia dengan Menyamar Jadi Petugas PLN
Muhammadiyah Imbau Takbir Keliling Ditiadakan di Bali Demi Hormati Nyepi
Gempa Magnitudo 3,3 Guncang Blitar Tengah Malam