Mereka bekerja dengan sistem shift 12 jam. Shift pertama mulai dari pukul delapan pagi sampai delapan malam. Lalu, giliran tim berikutnya yang mengambil alih hingga pagi hari. Meski begitu, jadwalnya tak selalu padat terus-menerus. "Karena jadwal kereta kan ada jedanya, jadi kita bisa pakai buat istirahat," tambah Warsito. Setidaknya ada waktu untuk sekadar melepas lelah di sela-sela kesibukan.
Di sisi lain, soal tarif jasa kini sudah lebih tertata. Stasiun Gambir telah memakai sistem modern berbasis aplikasi bernama E-Porter. Ada standar tarif minimal yang ditetapkan, yakni Rp 38.000 untuk dua barang berukuran besar. Namun, kalau barang bawaan penumpang lebih banyak dari itu, tarifnya bisa naik dua kali lipat. Praktis, sekaligus meminimalisir tawar-menawar yang kerap memakan waktu.
Suasana stasiun pun mulai berubah. Ritme lalu lalang penumpang dengan koper dan kardus berisi oleh-oleh kian cepat. Para porter dengan seragam merah dan birunya terlihat sigap membawa barang, menyusuri peron yang mulai sesak. Persiapan mereka jelas bukan tanpa alasan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran berharga: arus mudik tak pernah main-main.
"Wawancara dilakukan pada Senin, 16 Maret 2026.
Artikel Terkait
Keluarga Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel Usai Buka Puasa di Tepi Barat
Iran Klaim Hancurkan Gudang Amunisi AS di Pangkalan Udara Al Dhafra
Polisi Gunakan Drone untuk Pantau Kemacetan di Puncak Saat Lebaran
Arus Mudik Lebaran 2026 Meningkat, Bandara Soetta Layani 94 Ribu Penumpang Keberangkatan