Julio lalu mengaitkan temuan botol itu dengan helm yang disebut-sebut milik pelaku. Logikanya begini: kecil kemungkinan pelaku dengan sengaja membuang barang bukti di dekat TKP. "Apa sebabnya membuang helmnya sendiri kalau tidak mungkin saja kena air keras dan melukai kepalanya?" ucap Julio. Dari situ, tim investigasi independen mereka menduga kuat bahwa pelaku juga ikut terluka, terkena cipratan air keras yang dia siram sendiri. "Makanya relevansinya dibentuk tim investigasi independen yang berjalan beriringan dengan penyidik," imbuhnya.
Lalu, bagaimana penjelasan polisi?
Sebelumnya, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin sudah menyebut bahwa pihaknya sedang melakukan uji laboratorium forensik. Benda-benda yang diuji termasuk helm korban dan wadah air keras. "Kami sangat berharap... mudah-mudahan ditemukan sidik jari dari pelaku," kata Iman. Jejak DNA dari helm yang diduga milik pelaku juga jadi target pemeriksaan.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung menambahkan, helm terduga pelaku itu ditemukan di sepanjang Jalan Salemba 1 menuju RSCM. "Ini bersesuaian dengan rekaman CCTV," ujarnya. Helm tersebut sudah dikirim ke Bareskrim Polri untuk diambil sidik jari dan DNA-nya. Semua ini dilakukan sementara polisi belum melakukan upaya paksa terhadap tersangka.
Jadi, sekarang ada dua jalur yang berjalan: penyelidikan resmi kepolisian dan investigasi independen dari tim hukum. Keduanya sama-sama mengincar kebenaran di balik insiden kekerasan yang menyasar aktivis HAM ini.
Artikel Terkait
DKI Gelar Car Free Night dan Gratiskan Transportasi Umum Saat Lebaran
Dishub DKI Siapkan Transportasi Gratis dan Terminal Cadangan untuk Arus Mudik
Labschool UNJ Buka Rekrutmen Besar-besaran untuk Guru di Empat Lokasi
Polisi Bongkar Jaringan Ekstasi di Klub Malam Denpasar, 37 Pengunjung Positif Narkoba