Lalu, bagaimana dengan kondisi di Gilimanuk? Menurut Windy, ASDP tak tinggal diam. Mereka terus berkoordinasi dengan KSOP, Kepolisian, TNI, dan pemda setempat. Tujuannya cuma satu: mempercepat pengaturan di lapangan agar arus kendaraan, meski padat, masih bisa terkendali.
Soal armada, ada penambahan yang signifikan. Biasanya cuma 28 kapal yang beroperasi, kini jadi 35 unit. Mereka bekerja bergantian nonstop selama 24 jam. “Dengan armada yang bergerak nonstop, kapasitas angkut meningkat sehingga proses penyeberangan dapat berlangsung lebih cepat dan antrean kendaraan dapat terurai secara bertahap,” papar Windy.
Peningkatan arus ini memang dipicu oleh momentum. Mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik melonjak drastis, menyambut penutupan sementara layanan penyeberangan dari Gilimanuk. Kenapa ditutup? Karena Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Rabu hingga Jumat, 18 sampai 20 Maret 2026.
Operasional di selat Bali ini didukung oleh 17 dermaga aktif. Rinciannya, sembilan ada di Ketapang dan delapan di Gilimanuk. Untuk memisahkan arus, dermaga LCM khusus difokuskan melayani truk dan kendaraan logistik. “Ini untuk menjaga kelancaran distribusi barang,” tutup Windy.
Artikel Terkait
Anggota DPR Kecam Penyerangan Aktivis KontraS sebagai Aksi Teror
Iran Tantang AS Kirim Kapal Perang ke Teluk Persia, Bantah Klaim Trump
TNI AU Bantah Keterlibatan Personel dalam Dugaan Penjualan Tramadol di Depan Markasnya
Gelombang Awal Mudik Lebaran Mulai Padati Stasiun Pasar Senen