Pidatonya kemudian berubah menjadi seruan langsung yang tegas. Dengan lantang dalam bahasa Italia, dia menyampaikan pesan kepada para pemegang keputusan.
Kata-katanya bergetar di udara. "Kekerasan," tegasnya, "tidak akan pernah membawa keadilan atau kedamaian yang didamba rakyat. Yang ada hanyalah kehancuran."
Konflik mematikan ini sendiri berawal dari serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari lalu, tepatnya 28 Februari 2026. Serangan itu merenggut nyawa Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat itu.
Balasan Iran pun datang tak tanggung-tanggung. Mereka menyerang Israel dan pangkalan-pangkalan AS di sekitar Teluk, bahkan sampai menutup akses Selat Hormuz. Korban jiwa terus berjatuhan. Menurut catatan dari pemerintah dan media setempat, sudah lebih dari 2.000 orang tewas sebagian besar berasal dari Iran.
Di tengah situasi yang semakin rumit itu, seruan Paus Leo terdengar seperti sebuah harapan yang tak pernah padam, meski terasa berat untuk diwujudkan.
Artikel Terkait
Menhub Sebut Antrean Truk di Bandar Bakau Jaya Bagian dari Strategi Urai Kepadatan Merak
BRIN dan Agrinas Palma Jalin Kerja Sama Dongkrak Riset Sawit Berkelanjutan
Cuaca Ekstrem di Bandara Juanda Sebabkan 9 Penerbangan Delay dan 4 Dialihkan
Drone Serang Pangkasan AS-Italia di Kuwait, Fasilitas Hancur tapi Tak Ada Korban