Dampaknya pun merembet ke mana-mana. Aktivitas warga lokal Jembrana ikut lumpuh. Jalur utama yang jadi satu-satunya urat nadi transportasi kini dipenuhi kendaraan pemudik, menyulitkan sekali bagi masyarakat setempat yang perlu mobilitas, terutama ke wilayah barat kabupaten.
Di sisi lain, aparat kepolisian dari Polres Jembrana tentu saja kewalahan. Mereka bekerja keras mengatur lalu lintas, berjibaku di setiap persimpangan strategis. Tujuannya cuma satu: mencegah penguncian arus yang lebih parah lagi.
Masalahnya, volume kendaraan diprediksi masih akan terus membengkak hingga malam hari. Kekhawatiran pun muncul. Jika tidak segera ada terobosan atau rekayasa lalu lintas yang lebih efektif, bukan tidak mungkin ekor antrean ini akan terus memanjang. Akses logistik dan mobilitas warga bisa semakin tersendat.
Menghadapi situasi seperti ini, imbauan pun disampaikan. Para pemudik diharapkan tetap menjaga kondisi fisik dan memastikan kecukupan logistik selama terjebak antrean. Untuk warga lokal, saran yang diberikan adalah mencari jalur alternatif jika ada untuk bepergian di sekitar wilayah Negara hingga Gilimanuk.
Suasana mudik yang seharusnya penang sukacita, kini berubah jadi ujian ketahanan yang melelahkan bagi semua pihak.
Artikel Terkait
Sotong Gerakkan Ekonomi Desa Kelong, Puluhan Ibu Rumah Tangga Terbantu dari Olahan Ikan Delah
Kakorlantas Tinjau Operasi Ketupat 2026, Angka Fatalitas Kecelakaan di Jabar Turun 91 Persen
Pertamina Berangkatkan Lebih dari 5.000 Pemudik dengan 153 Bus di TMII
Lonjakan 100 Persen Pemudik Lebaran 2026 Serbu Terminal Kampung Rambutan