Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak dalam dua pekan terakhir bolak-balik menembus angka psikologis US$100 per barel. Bahkan, pejabat tinggi Iran sudah memperingatkan kemungkinan harga minyak bisa melonjak jauh lebih gila, mungkin menembus US$200 per barel angka yang bakal jadi rekor sejarah baru.
Di sisi lain, respons dari negara yang diajak Trump, seperti Cina, terlihat lebih hati-hati. Juru bicara Kedutaan Besar Cina di Washington D.C., Liu, menyerukan penghentian operasi militer di kawasan itu secepatnya.
Menurutnya, menjaga keamanan dan stabilitas kawasan adalah kepentingan bersama komunitas internasional. Liu menegaskan semua pihak punya tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi tetap lancar.
"Cina akan memainkan peran konstruktif untuk meredakan ketegangan dan memulihkan perdamaian," ujarnya, seperti dikutip South China Morning Post.
Jadi, situasinya rumit. Ada desakan AS untuk membentuk semacam patroli multinasional, tapi ada juga seruan dari pihak lain untuk gencatan senjata. Sementara itu, di perairan sempit Selat Hormuz, ancaman bentrokan tetap mengambang. Dan dunia menunggu, sambil memantau harga minyak yang terus bergolak.
Artikel Terkait
BPJPH dan Lembaga Halal Perkuat Sinergi dalam Buka Puasa Bersama
Indonesia Jadikan Ekspor Listrik Hijau ke Singapura sebagai Magnet Investasi Industri Tinggi
Wamen Sosial Serahkan Santunan Rp 440 Juta untuk Korban Longsor Banjarnegara
Operasional Sembilan SPPG di Gresik Dihentikan Sementara Usai Temuan Pembagian Kelapa Utuh